Hikmah Jum'at

Gafatar Gempar, Sarinah Menggelegar

Jumat, 15 Januari 2016 11:01 WIB

Oleh: Ustadz Didin Rohaedin

Mesias atau juru selamat Gafatar tentu senyum-senyum geli melihat berita di televisi. Bagaimana tidak, berita tentang kesesatan Gafatar yang menggemparkan dan sudah bertengger sebagai headline media massa dalam beberapa hari terakhir ini, tiba-tiba raib dan mendadak "dilupakan" dalam hitungan jam bersamaan dengan menggelegarnya suara ledakan-ledakan bom di Ibu Kota.

Gafatar atau Gerakan Fajar Nusantara sempat menyeruak ke permukaan dan menjadi berita utama pada sebagian besar media massa, bahkan menjadi tranding topic media sosial dan menyita perhatian banyak netizen, menyusul berita hilangnya dr Rica Tri Handayani (28) bersama anak balitanya bernama Zafran Ali Wicaksono pada 30 Desember 2015 di Yogyakarta yang akhirnya berhasil ditemukan polisi sepekan kemudian di Kalimantan Tengah yang merupakan basis Gafatar.

Saya terus mengikuti perkembangan berita ini melalui televisi dan media internet. Gafatar menjadi perbincangan hangat di dunia maya dan kehebohannya mengalahkan kasus Mirna Shalihin yang tewas setelah meminum kopi ala Vietnam yang diduga mengandung racun sianida. Sampai Rabu malam, gempar Gafatar masih menjadi berita utama di beberapa stasiun televisi swasta nasional.

Namun, Inna lillahi wa innaa ilaihi rooji'un...pada kamis siang pukul 10.50 WIB, Indonesia tiba-tiba diguncangkan dengan tragedi bom dan penembakan yang terjadi di kawasan Sarinah, Jalan M.H. Thamrin Jakarta Pusat yang mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia dan belasan lainnya mengalami luka berat. Beberapa jam kemudian Wakapolri Komjen Budi Gunawan menyatakan aksi terorisme ini terkait dengan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Tragedi Bom Sarinah puh menjadi headline media massa, menggeser Gafatar.

Bukan bermaksud mengait-ngaitkan, tapi menurut saya Gafatar dan ISIS memiliki beberapa kesamaan: Sama-sama sesat, sama-sama merugikan orang banyak dan sama-sama memainkan peran sebagai Abu Jahal dan Abu Lahab yang sedang berlomba-lomba memperburuk citra Islam.

Tentang Gafatar, menarik sekali menyimak apa yang disampaikan oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra dalam acara Gestur di TV One tanggal 13 Januari 2016. Beliau mengatakan bahwa Gafatar adalah tipikal dari kelompok-kelompok yang, dalam sosiologi agama, disebut core cultus yaitu gerakan yang berpusat pada orang-orang tertentu yang dalam perjalanannya selalu melakukan transformasi, berubah kulit dan warna tapi esensinya tetap sama, terkait satu sama lain. Ketika kemunculannya dicurigai orang, mendapat pengawasan dari masyarakat dan aparat, maka gerakan ini akan berubah warna dan berganti nama.

Pada dekade 60-an, Muslim Indonesia pernah dihebohkan dengan aliran "Islam Murni" alias "Islam Jamaah". Sama seperti aliran "Darul Hadis" yang telah dilarang sebelumnya, kelompok ini juga memiliki paham yang jauh menyimpang dari ajaran Islam. Salah satunya, mengkafirkan orang-orang Muslim yang berada di luar kelompok mereka, sekalipun itu adalah keluarga sendiri. Tak hanya itu, mereka juga menganggap umat Muslim yang tidak segolongan dengan mereka sebagai najis. Jika ada orang luar melakukan shalat di masjid milik Islam Jamaah, maka bekas tempat shalatnya akan dicuci karena dianggap bernajis. Selain itu, kelompok ini juga mengharamkan anggotanya belajar agama Islam, Alquran, dan Hadis selain kepada imam atau amir mereka.

Pada masa Orde Baru, Islam Jamaah dibubarkan dengan terbitnya Surat Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia No. Kep-089/D.A/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971, karena dinilai sudah menimbulkan keresahan masyarakat. Namun, sisa-sisa kelompok ini ternyata 'bereinkarnasi' dengan nama baru, yaitu LEMKARI (Lembaga Karyawan Islam). Dan belakangan ini bertransformasi lagi sekaligus "bersembunyi" di bawah payung LDII.

Demikian halnya dengan Gafatar. Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan dalam Tempo.co mengatakan bahwa Gafatar sebenarnya merupakan "copy-paste" (sama) dari gerakan NII. Bahkan program Gafatar, yakni masyarakat Indonesia membangun, mirip program NII. Setelah NII dibubarkan, muncul Al-Qiyadah al-Islamiyah, barulah Gafatar. Menurut Ken, Al-Qiyadah al-Islamiyah dulunya dipimpin Ahmad Musadeq. Musadeq dihukum pemerintah selama 2,5 tahun penjara dengan tuduhan menistakan agama. Setelah bebas, Musadeq kemudian mendirikan Komunitas Milah Abraham (KOMAR), Komunitas Milah Abraham akhirnya juga dilarang Majelis Ulama Indonesia di beberapa daerah karena dianggap sesat. Setelah Komunitas Milah Abraham dinyatakan terlarang, Musadeq kemudian mendirikan Gafatar pada 2011. Inilah metamorfosa dan perubahan warna yang telah dilakukan Gafatar.

Menurut Azyumardi Azra, penyimpangan dan kesesatan Gafatar dapat dilihat dari dua level, yaitu level teologis atau peribadatan seperti tidak mengakui kewajiban shalat, puasa, zakat dan lain sebagainya dan juga pada level sosial kemasyarakatan menyangkut beberapa kasus orang hilang setelah bergabung dengan Gafatar. Dua level inilah yang tidak sesuai dengan norma agama dan juga dengan norma sosial dan hukum yang ada.

Pada intinya, Gafatar telah merusak citra Islam dan mengacak-acak ajaranya dengan berkedok kegiatan sosial seperti donor darah, khitanan massal, pengobatan gratis dan pelatihan pertanian. Sebagaimana ISIS menimbulkan citra negatif tentang Islam dengan melakukan aksi-aksi teror yang merugikan orang banyak di berbagai negara di balik kedok "ihad" dan "Khilafah Islamiyah".

Terlepas dari benar atau tidaknya keterlibatan ISIS dalam insiden Sarinah, kita semua tentu mengutuk keras tindakan dan pelaku pengeboman yang menimbulkan kerusakan dan korban jiwa itu serta menyampaikan belasungkawa kepada para korban baik yang wafat maupun terluka, semoga keluarganya diberikan kesabaran. Kita juga berharap aparat keamanan khususnya Kepolisian dan BIN dapat mengusut tuntas motif dan pelaku insiden ini secara profesional, objektif dan seksama.[]


Baca Juga [ Senggang ]