Bahasa Lokal Mulai Ditinggalkan

Kamis, 11 Februari 2016 22:06 WIB

Oleh : Syafriwal Marbun

Ada hal yang menarik dalam penggalian bahasa asli di Sumatera Utara yang dilakukan oleh Balai Bahasa Sumut.

Berdasarkan serapan yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia ternyata baru ada 100.000 kata yang terdaftar, kalah banyak dengan Inggris yang telah mencapai 1.000.000 kata, padahal Indonesia lebih luas dan banyak suku bangsanya, yang seharusnya lebih kaya kata-kata lokalnya.

Oleh sebab itu Menteri Pendidikan Anies Rasyid Baswedan mengerahkan semua Balai Bahasa Daerah menggali sebanyak mungkin bahasa local untuk menambah perbendaharaan kata-kata tersebut, mumpung belum hilang ditelan waktu.

Saya yang diminta turut menjadi "pemungut kata" untuk Bahasa Pesisir Tapanuli Tengah dan Sibolga menjadi tertantang karena saat ini bahasa Pesisir sudah mulai ditinggalkan penuturnya di sini. Salah satu contoh, saat begitu anak lahir di Sibolga mereka telah dibiasakan berbahasa televisi (Indonesia Betawi) dan jangan heran mereka malah heran diajak bahasa "ambo-ambo atau beko-beko".

Padahal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI ) masih banyak serapan bahasa asing (Inggris) yang menunggu diganti bahasa lokal, atau bahasa majemuk untuk meringkas kalimat semisal gula merah menjadi saka/sokar.

Ingat kata mantan (bekas atau eks) itu adalah bahasa Pasemah dari Sumsel yang melejit mengisi perbendaharaan kata kita saat ini.

Lalu apa hebohnya dengan tulisan di atas ?

Ada, salah satunya ternyata kata korupsi yang diambil dari bahasa asing bisa kita coba ganti dengan Bahasa Pesisir Tapanuli Tengan (BPTT) dengan PICCUR yang artinya lebih kurang semakin keujung semakin mengecil. Sama halnya perbuatan dari awal besar ke ujung mengecil karena ada pengikisan.

PILTIK adalah perilaku kita menekan tombol kamera saat berphoto jaman dahulu, ternyata bisa menggantikan kata CLICK/klik yang mengacu pada computer. Hal mana membuat bahasa asing semakin merusak bahasa kita sendiri.

Lebih dari seratus kata kami temukan dan itu masih diambil secara serampangan, tentunya bisa lebih kalau betul-betul ditekuni.

Ah, siapa perlduli…………

Baca Juga [ Opini ]