Lompatan Karir Razman Arif Nasution

Rabu, 17 Juni 2015 09:48 WIB

Nama Razman Arif Nasution mendadak ramai dibicarakan publik setelah menangani beberapa kasus yang menjadi perhatian publik seperti Komjen Budi Gunawan, Sutan Bhatoegana dan DPRD DKI Jakarta. Sebelumnya, Razman Nasution adalah seorang dosen tetap di beberapa universitas di Jakarta dan Sumatera Utara.

Hari itu, Razman Nasution baru saja tiba di Bandar Udara Soekarno Hatta saat handphone-nya tiba-tiba berdering. Tidak diketahui siapa yang menghubunginya karena nama penelpon tidak tertera. Tanpa pikir panjang, Razman Nasution langsung mengangkat teleponnya.

Rupanya telepon itu berasal dari salah satu staf Komjen Budi Gunawan yang meminta Razman Nasution untuk datang ke Tirtayasa, Gedung PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Saat itu, Budi Gunawan baru saja ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus penerimaan hadiah atau gratifikasi.

Usai menerima telepon, Razman Nasution langsung bergerak menuju PTIK. Sampai di PTIK, Razman diterima langsung oleh Komjen Budi Gunawan. "Jadi saya yang menerima surat kuasa pertama dari Pak Budi Gunawan," tutur Razman Nasution saat berbincang dengan Logis.

Sejak saat itu, Razman Nasution secara aktif melakukan pembelaan terhadap Budi Gunawan. Razman Nasution bahkan tercatat sebagai salah satu pengacara Budi Gunawan yang cukup aktif memberikan pernyataan kepada media. Dan sejak saat itu pula, nama Razman Nasution semakin santer terdengar di telinga masyarakat.

Pembelaan yang diberikan Razman Nasution bersama Eggy Sudjana beserta tim kuasa hukum Budi Gunawan rupanya berbuah manis. Hakim tunggal Sarpin Rizaldi yang menangani permohonan praperadilan yang diajukan oleh Komjen Budi Gunawan atas penetapannya sebagai tersangka oleh KPK, memutuskan menerima gugatan praperadilan tersebut. Dalam putusannya, hakim Sarpin Rizaldi menyatakan bahwa jabatan Karobinkar yang dijabat Budi Gunawan selama tahun 2003-2006 merupakan jabatan administrasi dan bukan penyelenggara negara. Karobinkar, papar Hakim Sarpin, merupakan jabatan di bawah deputi Kapolri sebagai pelaksana staf, setingkat pejabat eselon II.

Kemenangan Komjen Budi Gunawan dalam praperadilan terhadap KPK, membuat nama RazmanNasution juga ikut populer. Tidak berselang lama setelah putusan tersebut, jasa Razman Nasution dan Eggy Sudjana juga digunakan oleh Sutan Bhatoegana dan Suryadharma Ali yang mengajukan gugatan praperadilan atas penetapannya sebagai tersangka oleh KPK. Jasa Razman Nasution juga digunakan oleh beberapa anggota DPRD DKI Jakarta yang melaporkan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ke Bareskrim Mabes Polri atas tuduhan penghinaan dan pencemaran nama baik. Sayangnya, kedua kasus tersebut tidak sempat diselesaikan Razman Nasution karena dia sudah dieksekusi paksa oleh Kejaksaan Agung. Gugatan praperadilan Sutan Bhatoegana sendiri akhirnya dinyatakan gugur oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sementara laporan beberapa anggota DPRD DKI Jakarta terhadap Ahok, hingga kini masih diselidiki oleh kepolisian.

Jauh sebelum menjadi pengacara Komjen Budi Gunawan, Sutan Bhatoegana dan beberapa anggota DPRD DKI Jakarta, Razman Nasution sebenarnya sudah mulai dikenal publik saat menjadi pengacara mantan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono. Saat itu, menurut Razman Nasution, dirinya banyak disebut memiliki kepentingan politik  terhadap kasus Udar Pristono untuk menjatuhkan citra Joko Widodo yang saat itu sudah dijadikan sebagai calon presiden oleh PDIP. "Padahal tidak ada kepentingan apapun dalam kasus tersebut. Bukankah berdasarkan Undang-Undang, seseorang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka memiliki hak untuk mendapatkan pembelaan. Bahkan jika seorang terdakwa tidak memiliki biaya untuk menyewa penasehat hukum, negara sudah menyediakan penasehat hukum di pengadilan. Kepentingan saya hanya membela klien saya. Tidak ada kepentingan lain," ujar Razman.

Perjalanan karir Razman Nasution kemudian semakin naik setelah ditunjuk menjadi Wakil Ketua Tim kuasa hukum tim Prabowo-Hatta saat menggugat penetapan hasil pemilu presiden oleh KPU ke Mahkamah Konstitusi dan melaporkan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh komisioner KPU ke DKPP. "Saya bahkan diminta secara tidak langsung menjadi juru bicara tim karena public speaking saya dinilai bagus," ungkap Razman Nasution menirukan ucapan Max Sopacua, salah seorang anggota tim sukses Prabowo-Hatta dari Partai Demokrat.

Sebelum menjadi pengacara, Razman Nasution awalnya adalah seorang dosen di beberapa universitas di Sumatera Utara dan Jakarta. Doktor lulusan Universitas Sains Malaysia itu mengungkapkan bahwa awal ketertarikannya kepada dunia hukum dimulai sejak menjadi salah satu peserta diskusi hukum yang ditayangkan di salah satu televisi swasta nasional. Sejak saat itu, Razman Nasution kemudian memutuskan untuk mengikuti pendidikan advokat sampai akhirnya "magang" selama 2 tahun di kantor pengacara Eggy Sudjana. "Begitu menjadi pengacara, saya langsung mendapatkan kasus-kasus yang banyak menjadi perhatian publik. Ini mungkin sudah jalan dari Allah SWT," ujar Razman Nasution.[]

Baca Juga [ Nasional ]