Penjara: Kondisi dan Keadaan Yang Sesungguhnya

Rabu, 17 Juni 2015 10:15 WIB

Oleh: Razman Arif Nasution

Penjara itu adalah bagian dari kematian. Kematian kecil. Begitulah saya menyebut kondisi seseorang yang dimasukkan kedalam penjara baik itu Rumah Tahanan (Rutan) maupun Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Kematian kecil dalam artian bahwa kita disuruh untuk mandiri, hidup kembali, mandiri lagi, dan menjadi anak kos lagi. Penjara adalah sebuah cara bagi seseorang untuk mengoreksi dirinya. Sungguh amat keterlaluan, jika seseorang sudah masuk penjara tapi tidak berhasil melakukan koreksi atas dirinya.

Menjadi penghuni penjara, kita dapat mengukur siapa teman yang setia dan siapa yang tidak. Termasuk dari keluarga sendiri. Karena persepsi masyarakat bahwa penjara ya penjara. Orang tidak berpikir bahwa kita masuk penjara karena menampar atau karena maling ayam. Tapi saya bersyukur anak-anak saya, keluarga saya semua memahami posisi saya.

Kondisi penjara di Indonesia saat ini memang terlihat sangat memprihatinkan. Persoalan over capacity menjadi persoalan klasik yang tidak kunjung bisa diselesaikan hingga saat ini. Persoalan over capacity ini secara tidak langsung juga menjadi penyebab munculnya berbagai persoalan di dalam penjara. Salah satu persoalan yang menurut saya perlu mendapat perhatian adalah narkoba. Karena itu, saya mendukung hukuman terhadap pengedar narkoba harus dihukum yang seberat-beratnya

Saya sekarang bertambah yakin bahwa narkoba adalah faktor terbesar penyebaran HIV di Indonesia. Di dalam Rutan atau Lapas, persoalan narkoba ini juga menjadi persoalan serius. Seseorang yang sebelumnya masuk penjara karena kasus kriminal bisa, di dalam penjara, saat dia memasuki zona-zona yang sudah ditetapkan oleh sipir, dia terpaksa bergaul dengan pelaku narkoba. Akibatnya, mau tidak mau banyak dari para penghuni penjara yang ikut suntik narkoba. Jika tidak mau disuntik, dia takut terhadap penghuni lama penjara.

Oleh karena itu, dalam pandangan saya, butuh pengawasan lebih ketat di dalam penjara. Mapenaling (masa pengenalan lingkungan) yang diterapkan di dalam penjara, menurut saya sangat tidak baik. Bagaimana mungkin satu tempat diisi oleh 300 orang. Itu sangat tidak pantas dan tidak manusiawi. Akibatnya banyak mereka yang ada di dalam penjara jatuh sakit. Dan tadinya sakit biasa akhirnya terinfeksi HIV karena disuntik. Apa penyebabnya? Di Rutan Cipinang misalnya, sipirnya hanya 23 orang,  sementara yang dijaga sekitar  3600 orang. Jadi 300-400 berbanding 1 orang. Sementara kapasitas rutan hanya 1000 orang. Kita bisa membayangkan, bagaimana sulitnya seorang sipir untuk mengamankan penjara. Sehingga akhirnya, sipir melakukan pendekatan dengan cara-cara mereka masing-masing.

Untuk menyelesaikan persoalan klasik yang terjadi di lembaga pemasyarakatan di Indonesia, maka perlu dipertimbangkan agar Lapas bisa menjadi badan tersendiri yang bertanggungjawab langsung kepada Presiden seperti halnya BNN, BNPT atau Basarnas. Harus dipisahkan dari Kementerian Hukum dan HAM. Dengan menjadi badan tersendiri, maka Lapas dapat mengorganisir dirinya termasuk percepatan pembangunan infrastruktur, penambahan SDM serta memotong alur birokrasi dan menekan anggaran.

Kita harus menyadari bahwa bahwa orang-orang yang berada di dalam penjara adalah kategori orang yang melakukan kejahatan. Oleh sebab itu penangannya harus serius.

Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah terkait dengan pelaku terorisme yang ditahan di penjara. Pelaku teroris yang berada di dalam penjara tidak mendapatkan pemahaman yang memadai tentang ajaran Islam. Sehingga, saat mereka keluar penjara, mereka tetap melaksanakan teror dan ajarannya tetap ekstrim. Oleh sebab itu, Kemenkumham harus bekerjasa sama dengan Kemenag dan Kemenkes maupun dengan BNPT. Program deradikalisasi harus diintensifkan bagi tersangka dan terpidana terorisme.

Terakhir, para napi harus terjamin keamanannya di dalam penjara. Saya melihat keamanan di dalam penjara itu kurang terjamin.[]


Baca Juga [ Opini ]