Fenomena Batu Akik: Hobby Atau Pelarian?

Jumat, 03 Juli 2015 15:53 WIB

Ilustrasi

Oleh: Syafriwal Marbun

Sinar matahari masih panas, bayang-bayang masih tepat di bawah badan, bahkan angin pun masih malas bertiup. Tapi di depan ruko di sepotong jalan di Kota Sibolga, kegiatan sudah berlangsung lama, tidak perduli keringat mengucur deras, para lelaki asik merubung sebuah tenda biru yang sesak perubung lainnya.

Mereka tidak perduli suara generator kecil yang meraung-raung ditingkahi suara bising alat gerinda dan pemotong batu, semuanya terpekur merenung bahkan duduk bersila walau lantai semen panas serta debu batu dari gerinda berterbangan ke arah muka mereka. Lelaki itu asik dalam 'mimpi', tepekur mendalami setiap gurat batu akik yang aneka warna mengkilat diterpa sang mentari siang.

Aneka tafsir keluar seiring nafas para peminat yang berhamburan bersama asap rokok diantara anak-anak yang juga mulai 'kasmaran' pada batu indah tersebut. Disini mereka bersama jongkok, nungging, nyender, bahkan nyeker, dan sesekali mengeker dengan senter HP (handphone).

Di sinilah tempat asah batu, yang kian diserbu. Sebuah ajang melupakan sejenak persoalan dunia yang semakin tidak menentu. Mulai dari ujung Sumatera hingga Bengkulu, bahkan menjalar sampai ke Papua.

Salah seorang pengunjung mengeluarkan dari celananya sebuah bungkusan beludru kuning, terbungkus sangat hati-hati melebihi emas, lalu menunjukkan pada sang pengasah.

"Pak, ini peninggalan kakek saya, jenis apa ya?" tanyanya ingin sebuah kepastian.

"Nah, ini batu bagus, dan warnanya bening seperti bensin. Kualitasnya bagus, saya bayar saja yah," terdengar suara bercanda Alim sang penggosok batu sembari tertawa ketika menilai bahan yang dibawa pelanggannya.

Perlu diketahui semakin bening batu tersebut dan tidak berserat serta jelas body glass-nya, maka nilainya akan semakin mahal. Untuk itu keahlian pengasah batu juga sangat berpengaruh dengan kualitas batu yang akan dihasilkan.

"Saya sudah kewalahan menerima permintaan batu akik dari Jago-jago. Semenjak batu ini menjadi juara dua nasional di Bandung baru-baru ini," tanpa ditanya Ucok penjual batu di sekitar Jl. Ahmad Yani, Kota Sibolga mengungkapkan pada penulis.

Hari semakin sore dan para 'pendemam' batu akik ini semakin menyemut mengerumuni para pengasah dan penjual yang telah jadi. Rupa-rupa alasan mereka mencari batu akik. Mulai dari hanya sebagai hiasan atau juga percaya hal-hal yang di luar akal. Ada saja yang percaya batu anu bisa buat anu atau batu anu bisa buat apa.

Sejak kapan manusia mulai mengenal keindahan batu alam? Tidak ada data yang valid. Bahkan sejak kapan manusia mulai mengoleksi sesuatu yang disebut hobby, tidak juga ada data yang akurat. Mungkin semenjak manusia dibekali daya pikir melebihi makhluk lainnya, koleksi mengkoleksi ini sudah terpatri di bawah alam sadarnya. Lihatlah fenomena tentang batu ini di sekitar kita, dimulai saat hebohnya orang-orang mengoleksi aneka tanaman hias bernama Bonsai, mereka rela berburu jenis tanaman ini hingga melebihi batas kenormalan. Masuk hutan, naik gunung bahkan pergi ke wilayah konflik mempertaruhkan nyawa karena mendengar ada tanaman unik dan kerdil di situ! Belum selesai akar bahar diperebutkan, beralih ke tanaman bonsai diburu pehobby lain, Ayam Bekisar, Burung Perkutut, ikan Arwana, ikan Louhan, tanaman anthurium dengan maskot Bunga Gelombang Cinta yang kesemuanya dengan harganya yang wah...!

Fenomena ini terus bersirkulasi sejalan waktu, semenjak 'Batu Mulia' telah dikenal sejak zaman kuno. Manusia purba menghargai keindahan di alam, seperti buah-buahan berwarna, kerang yang menarik, kerikil berwarna cerah, dan lain-lain, dan digunakan oleh mereka untuk perhiasan pribadi.

Sejarah menegaskan negara-negara di belahan timur adalah yang pertama menggunakan batu mulia atau permata, diperkirakan sekitar 100.000-75.000 SM. India adalah sebagai tempat asal mula batu permata, bahkan dalam tulisan-tulisan Hindu yang paling awal disebutkan India itu terbuat dari permata dan perhiasan. Kitab Weda memiliki referensi ke tempat-tempat yang diterangi oleh rubi dan berlian. Batu mulia memainkan bagian yang sangat menonjol dalam mitologi Hindu, dalam tradisi, puisi dan legendanya. Dalam dua epos besar mereka, Ramayana dan Mahabharata, raja dan rakyat dikatakan telah menghiasi diri dengan batu dan mutiara seperti tergambar pada pakaian-pakaian dan mahkota mereka di serial tersebut disalah satu televisi nasional.

Bangsa Phoenician membawa batu mulia dan permata ke Mesir dan Yunani dari Negeri Timur tersebut. Batu mulia merupakan salah satu komoditas yang paling berharga dan kompak, yang memiliki tren kenaikan nilai dalam jangka waktu yang lama. Kekayaan besar dapat terkonsentrasi dalam paket kecil sebuah batu. Sejak masyarakat menikmati pasar internasional, batu mulia menjabat sebagai bentuk investasi selama berabad-abad. Hal ini telah diibaratkan sebagai pertumbuhan kekayaan keluarga dari beberapa pemeluk Hindu.

Kecenderungan yang sama juga berlaku di Barat di mana kekayaan mudah disembunyikan atau mudah diangkut jika terjadi gangguan ketenangan politik. Selama masa peperangan terjadi kecenderungan besar untuk berinvestasi pada batu mulia, dan perdagangan permata memiliki saat gemilang. Batu mulia juga telah menyebabkan eksplorasi dan perjalanan dari pedagang permata serta membentuk sumber informasi yang bermanfaat mengenai Timur ke Eropa di abad pertengahan. Batu mulia dianggap sebagai 'bunga dari Kerajaan Mineral'. Mereka adalah mineral dengan beberapa pengecualian seperti mutiara, karang dan gading yang merupakan produk hewani, mestika kelapa, kamfer dari bahan nabati.

Material permata atau batu mulia merupakan mineral yang dibedakan dengan tingkat kekerasan mereka, yang memungkinkan mereka untuk dipakai sebagai perhiasan pribadi tanpa kerusakan, dan dengan warna dan kilau yang membuat mereka menarik. Kualitas ini mungkin bisa didapat di beberapa mineral, beberapa di antaranya tidak bisa disebut 'berharga', namun dapat disebut 'semi mulia'.

Batu mulia adalah mereka yang benar-benar langka dan sulit untuk mendapatkan. Ini hanya definisi sederhana. Ruby dan zamrud yang sekarang langka dan sulit diperoleh dan karenanya dianggap sebagai batu mulia peringkat pertama.

Kembali ke soal batu akik, tak semua penggemar batu akik hanya memburu keindahanya, ternyata banyak pula yang memburu batu akik karena unsur supranaturalnya. Untuk hal ini kesampingkan dahulu unsur logika, karena mereka yang telah 'kerasukan' akan tidak peduli himbauan kita tentang jangan mensyirikkan Tuhan dengan batu-batu ini, dan ini merupakan tugas pemuka-pemuka agama untuk terus menyuarakan apa yang harusnya menjadi pedoman dalam berkegiatan, termasuk kegemaran akan batu akik.

Indonesia adalah negara yang kaya dengan beragam adat dan budaya. Dari yang sifatnya sederhana hingga yang sifatnya tidak mampu dicerna dengan akal sehat manusia seperti dunia mistik. Fenomena yang menarik adalah mengguritanya kepercayaan masyarakat terhadap daya guna batu cincin. Bahkan hingga pejabat tinggi negara pun, fenomena ini sangat merebak. Walau terkadang, fenomena ini luput dari penglihatan kita.

Tapi coba lihat disekeliling kita, pejabat daerah manapun pasti cenderung memakai cincin bermata batu, entah itu batu akik atau batu bertuah lainnya. Ada sesuatu yang cukup unik bila kita memiliki waktu luang untuk memikirkan dan membayangkannya. Beberapa petinggi negara yang pasti diliputi kesibukan yang sangat luar biasa, masih menyempatkan diri untuk menggunakan Batu Mulia dan Batu Akik yang melingkar dijari kiri atau sebelah kanan sebagai pelengkap penampilan sehari-hari.

Yang menjadi pertanyaan adalah hanya sekedar pelengkap penampilan, atau ada 'sesuatu' dibalik batu Cincin yang dikenakan oleh mereka? Saat ini, kegemaran akan batu akik menjadi fenomena sosial di Indonesia. Di banyak tempat bisa ditemui penjual-penjual batu cincin yang menyediakan berbagai jenis batu akik. Ada banyak alasan seseorang membeli batu cincin berbagai ukuran itu, mulai dari alasan keindahan hingga alasan klenik.

Namun setelah mengamati fenomena batu akik selama beberapa lama, kita melihat bahwa hal tersebut sesungguhnya merupakan geliat ekonomi rakyat hasil perubahan kondisi masyarakat yang tadinya hanya memikirkan kebutuhan primer menjadi juga peduli dengan hobinya. Kegemaran masyarakat akan batu akik berdampak pada bertambahnya perhatian pada potensi ekonomi dari batu akik tersebut. Saat ini banyak berdatangan importir-importir batu dari berbagai negara, seperti Taiwan, Tiongkok, Jepang, Korea, dan lain sebagainya yang masuk langsung ke pelosok-pelosok Indonesia untuk membeli batu-batu untuk kemudian diolah negara mereka sendiri.

Sudah selayaknya potensi batu ini disikapi oleh Pemerintah Daerah dengan memberi perhatian yang lebih besar sehingga apa yang ditawarkan daerah bukan lagi batu-batu mentah tapi yang sudah diolah sehingga memiliki nilai tambah dalam mengurangi kemiskinan, lapangan kerja dan ekonomi daerah itu sendiri.


Baca Juga [ Opini ]