Razman Arif Nasution, Anak Ulama Dari Singkuang

Minggu, 02 Agustus 2015 20:41 WIB

Razman Arif Nasution

Perjalanan hidup Razman Nasution terbilang berliku. Lahir dari keluarga yang kurang mampu, Razman Nasution harus banting tulang berjuang agar bisa menyelesaikan pendidikan dan meraih cita-citanya.

Desa Singkuang, Kecamatan Muara Batang Gading, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara merupakan salah satu desa terpencil yang terletak digaris pantai barat Sumatera yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Untuk mencapai desa ini harus menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 6-7 jam perjalanan dari pusat pemerintahan Kabupaten Mandailing Natal.

Pada tahun 1980-an, Desa Singkuang masih tercatat sebagai salah satu desa di Kabupaten Tapanuli Selatan sebelum dimekarkan dengan membentuk Kabupaten Mandailing Natal. Meski saat itu secara geografis berada di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan, namun tidak ada akses jalan dari Kota Padang Sidempuan (Ibu KOta Kabupaten Tapanuli Selatan saat itu) menuju Singkuang. Satu-satunya akses menuju Desa Singkuang adalah melalui jalan laut dari Kota Sibolga yang berada di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah. Sehingga kebanyakan warga Singkuang memilih merantau ke Kota Sibolga. Di Desa Singkuang inilah, Razman Nasution menghabiskan masa kecilnya.

Razman Nasution tumbuh dalam keluarga yang sangat kuat menjalankan nilai-nilai keislaman. Ayahnya, Bizarul Hakim Nasution adalah seorang ulama lokal yang juga guru mengaji bagi anak-anak di Desa Singkuang. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ayahnya berjualan ayam ke kota kecamatan. Tidak seperti penjual ayam di pasar-pasar tradisional yang memiliki puluhan ekor ayam untuk dijual, ayahnya hanya menjual sekitar 3-4 ekor ayam kampung. Sesekali, dia juga menjual hasil kebun seperti singkong, terong dan lain-lain. Razman Nasution juga sering menemani sang ayah berjualan.

Razman Nasution memulai pendidikannya di SD Negeri Singkuang. Sempat pindah ke SD Al-Falah, Kota Sibolga, selama beberapa bulan mengikuti sang ayah yang menjadi staf pengajar di salah satu sekolah di Kota Sibolga dan menjadi imam mesjid di Mesjid Al-Ikhwan, Kota Sibolga. Razman Nasution pun akhirnya menyelesaikan pendidikannya di SD Singkuang pada tahun 1984.

"Saya adalah anak seorang ulama. Ayah saya itu tidak pernah menangis, walau kehidupan kami waktu itu sangat sulit. Bagi ayah saya, seorang ulama itu tidak boleh menangis. Setiap malam dia selalu menunaikan sholat Tahajjud. Suatu hari, setelah sholat Subuh, saya melihat ayah saya menangis. Saya tanya, ayah kenapa? Rupanya sekitar 3 ekor ayam yang akan dijual mati terkena penyakit. Beliau kemudian memperlihatkan uang sebesar Rp 1.500,-. Lalu beliau bilang, uang kita sudah habis. Saya kemudian bilang, saya tidak usah sekolah dulu. Tapi beliau berkeras, saya harus sekolah," tutur Razman menceritakan sosok ayahnya.

Razman Nasution kemudian melanjutkan pendidikan ke MTs.N Padang Sidempuan. Untuk mencapai Kota Padang Sidempuan, Razman harus berjalan kaki selama 7 jam ke Desa Batu Mundam. Dari Batu Mundam, perjalanan dilanjutkan ke Kota Sibolga, baru kemudian ke Kota Padang Sidempuan. Setelah lulus di MTs.N Padang Sidempuan, Razman Nasution mendapat beasiswa Supersemar dari Presiden Soeharto dan diterima di dua sekolah yaitu Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Padang Sidempuan dan Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri Padang Sidempuan.

Kehidupan yang sulit, justru membuat Razman Nasution termotivasi untuk meraih prestasi. Di PGA, dia selalu tercatat sebagai juara kelas disekolahnya. "Ayah saya pernah bilang, jika saya hanya menjadi juara dua di kelas, lebih baik saya pulang kampung saja ke Singkuang. Begitu susahnya menyekolahkan kau ini," tutur Razman Nasution menirukan ucapan ayahnya.

Atas prestasinya selama di sekolah, Razman Nasution pun mendapatkan beasiswa untuk masuk ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Medan. Namun karena yang ditanggung beasiswa hanya biaya masuk perguruan tinggi, Razman Nasution akhirnya tidak mengambil beasiswa tersebut. "Beasiswa itu hanya untuk biaya masuk kuliah. Sementara biaya hidup dan lain-lain harus ditanggung sendiri. Ayah saya sudah tidak kuat untuk membiayai saya kuliah," cerita Razman Nasution.

Razman Nasution pun memutuskan pulang kampung ke Singkuang. Selama tiga bulan dia mengabdikan dirinya mengajar di sekolah yang ada di Singkuang. "Setelah tiga bulan di kampung, ada saudara saya di Medan, meminta saya datang ke Medan dan melanjutkan pendidikan. Beliau juga yang membantu saya kuliah," ujar Razman Nasution.

Razman Nasution memilih kuliah di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). Selama kuliah, Razman Nasution aktif dibeberapa organisasi mahasiswa. Terkait keaktifannya di organisasi, Razman Nasution bercerita, bahwa sejak PGA dia memang suka berorganisasi. "Saya pernah menjadi Ketua OSIS, Ketua Senat Fakultas dan Ketua Senat Universitas di UISU. Saya juga menjadi Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pelajar Indonesia di Malaysia," ungkap Razman Nasution.

Di UISU, Razman Nasution mengikuti program pertukaran mahasiswa dan diterima di Universitas Sains Malaysia. Dikampus inilah, Razman Nasution juga menyelesaikan program master dan doktoralnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan masternya di Universitas Sains Malaysia, Razman Nasution kemudian kembali ke Medan dan menjadi staf pengajar di almamaternya, Universitas Islam Sumatera Utara. Saat itu, Kabupaten Mandailing Natal baru saja terbentuk dan Razman Nasution menulis disalah satu koran di Kota Medan tentang politik melayu pesisir. Tulisan inilah yang mengantarkan Razman Nasution menjadi salah satu staf ahli Bupati Mandailing Natal. "Saat itu, tulisan saya di Medan Pos dibaca oleh Bupati Mandailing Natal. Lalu kemudian beliau menghubungi saya dan meminta saya membantu beliau di Mandailing Natal. Saya akhirnya pulang kampung dan menjadi Staf Ahli Bupati Mandailing Natal Bidang Sosial Kemasyarakatan," ungkap Razman Nasution.

Menjadi Staf Ahli Bupati Mandailing Natal seperti pembuka jalan bagi Razman Nasution untuk masuk ke politik. Pada tahun 1999, Razman Nasution memutuskan menjadi salah satu calon anggota legislatif untuk DPRD Kabupaten Mandailing Natal dari Partai Golkar dan terpilih menjadi salah satu anggota DPRD Kabupaten Mandailing Natal. Karir politik Razman Nasution terus berlanjut hingga pemilu tahun 2004. Namun kali ini dia tidak lagi maju dari Partai Golkar melainkan dari Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB).

"Umur saya saat menjadi anggota DPRD baru 26 tahun tahun 1999. Selama menjadi anggota DPRD, saya diamanahkan menjadi Ketua Badan Anggaran di DPRD selama 8 tahun. Pada periode pertama saya menjadi anggota DPRD, saya ditunjuk untuk menjadi Sekretaris Fraksi Partai Golkar, Pada periode kedua, saya ditunjuk untuk menjadi Ketua Fraksi gabungan dari beberapa partai di DPRD. Dan selama memegang amanah sebagai Ketua Badan Anggaran itu, saya tidak tercederai oleh persoalan hukum dalam hal ini korupsi. Lalu, pada tahun 2011, atas dorongan beberapa teman, saya pindah ke Jakarta karena pada waktu saya ditunjuk untuk menjadi salah satu ketua di DPP PKPB dibawah pimpinan Bapak Jenderal (Purn) TNI HR. Hartono, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) dan Mendagari. Pak Hartono itu sudah seperti orang tua saya di Jakarta. Beliau yang memperkenalkan saya tentang Jakarta untuk pertama kali. Beliau memberikan ruangan untuk saya bekerja di DPP PKPB," ujar Razman Nasution.

Saat ini, Razman Nasution menjadi salah satu pengacara yang banyak menjadi perhatian publik. Namanya kian melambung seiring berbagai kasus yang ditanganinya. Razman pernah menjadi penasehat hukum Udar Pristono, menjadi anggota tim kuasa hukum Prabowo-Hatta, menjadi penasehat Komjen Budi Gunawan, dan terakhir menjadi penasehat hukum Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho.

Bagi Razman Nasution, apa yang didapatkannya hari ini, semua tidak terlepas dari kuasa Tuhan dan doa orang tuanya. "Ayah saya mengajarkan kepada saya, kalaupun kamu melakukan perbuatan khilaf sebagai manusia, maka imbangilah dengan kebaikan-kebaikan. Karena kejahatan yang engkau lakukan, meski tidak engkau sengaja, niscaya akan diampuni oleh Allah SWT," tutup Razman Nasution. 


Baca Juga [ Inspirasi ]