Sosok

Syariful Alamsyah: Saya Akan Ciptakan Peluang Kerja Baru di Tapteng

Selasa, 09 Agustus 2016 11:41 WIB

Syariful Alamsyah Pasaribu, pengusaha asal Tapanuli Tengah yang kini menjadi bakal calon Bupati Tapanuli Tengah

JAKARTA - Setelah berhasil menciptakan peluang kerja bagi ratusan warga Tapteng di perantauan,  bakal calon bupati  Syariful Alamsyah Pasaribu juga bertekad  menciptakan berbagai peluang kerja baru di tanah kelahirannya itu jika nanti dipercaya memikul  amanah sebagai Bupati Tapteng (Tapanuli Tengah). 

Menurut Syariful, salah satu masalah besar yang dihadapi Tapteng hari-hari ini adalah tingginya angka pengangguran  yang mencapai 20-30 persen dari total jumlah penduduk.  Selain itu, dia prihatin, Tapteng pun belum bisa lepas dari predikat salah satu daerah termiskin di Provinsi Sumut.

(Baca: Syariful Alamsyah: Sebagian Karyawan Saya Berasal dari Tapteng)

"Karena itulah saya bertekad akan menciptakan banyak peluang kerja baru bagi warga  Tapteng andai nanti saya mendapat amanah terpilih sebagai Bupati Tapteng," katanya.

Tekad putra Tapteng kelahiran Sibabangun 54 tahun lalu itu agaknya tak mengada-ada.  "Di tanah perantauan yang sarat persaingan ini saja saya mampu menciptakan peluang kerja bagi putra Tapteng. Insha Allah di daerah nanti saya juga akan berbuat sama," tekadnya.

Sektor kelautan dan pertanian, di mata Syariful, memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan dan diolah lebih serius  untuk membuka lapangan kerja atau usaha.

Jatuh-bangun

Kesungguhan Syariful sebagai pengusaha telah teruji. Pada 1993 dia memberanikan diri mundur sebagai Kepala Personalia di sebuah perusahaan BUMD Pemda DKI Jakarta. Atas saran seorang temannya, dia terjun ke bisnis suplaier air.

Usaha ini dimulai dengan menyisihkan uang pesongannya untuk membeli sebuah truk tangki besar bekas  seharga Rp 20 juta untuk alat angkut memasok air PDAM untuk pendingin mesin  ke berbagai pabrik di kawasan Sunter, Jakarta Utara.

"Saya mengambil air sendiri dan  memasarkan sendiri  karena belum ada karyawan," katanya mengenang.

(Baca: Syariful Alamasyah Akan Benahi Tiga Sektor Ini Jika Jadi Bupati Tapteng)

Waktu itu bisnis pemasok air cukup menguntungkan karena bersifat cash and carry, artinya dibayar kontan oleh pemesan.  Dengan pemasukan per tangki Rp 70 ribu, setelah dipotong biaya produksi dan lain-lain, dia bisa mengantongi untung Rp 40 ribu. Dalam sehari dia mampu memasok tiga rit.

Setelah agak berkembang Syariful pindah  lokasi ke  Pasar Rebo, Jakarta Timur. Di sini dia sudah mampu memperkerjakan beberapa karyawan. Namun, pada 1998 usahanya dihajar badai krisis moneter yang saat itu menerpa dunia usaha di Indonesia. Banyak pabrik kolaps sehingga permintaan pasokan air turun drastis.

Di tengah krisis itu dia segera  mengubah strategi bisnisnya dari pemasok air pendingin pabrik menjadi  pemasok air untuk minum. Truk tangki besarnya dijual dan ditukar dengan yang berukuran lebih kecil.

"Ini startegi untuk memenuhi tuntutan pasar agar  truk bisa masuk ke jalan-jalan kampung yang kecil," kata ayah dua anak yang masih kuliah itu.

Seiring dengan perkembangan usaha dan bertambahnya truk, setelah beberapa kali pindah, sejak tujuh tahun lalu Syariful memiliki kantor sendiri di atas lahan seluas 1 ha di daerah Sentul, Kabupaten Bogor.

Di lahan ini  dia menampung 150-an truk tangki, mendirikan mushola, membangun mess karyawan, gudang,  dan ruang kerjanya. Dari sini pula dia mengendalikan bisnis sewa alat berat untuk konstruksi. yang didirikannya. Dia kini membawahi 400-an karyawan yang  berasal dari Tapteng.

"Jika nanti berhasil maju sebagai Bupati Tapteng, semua usaha ini akan saya tinggalkan utuk sepenuhnya mengabdi pada rakyat. Saya tidak bisa main-main dengan amanah yang berat itu," tekad pria yang oleh karyawannya dipanggil Pak Haji dan sedapat mungkin selalu  menjadi imam di musholla-nya itu.[] HS


Baca Juga [ Inspirasi ]