Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Al-Qur'an

Jumat, 18 November 2016 10:06 WIB

Oleh: Didin Rohaedin

Sejenak mari kita lupakan Ahok dengan status barunya sebagai tersangka. Kita beri kesempatan kepolisian untuk melaksanakan kewajiban mereka melakukan penyidikan atas kasus dugaan penghinaan Al-Qur'an itu dengan adil dan objektif. Kemungkinan adanya intervensi dari pihak-pihak lain selama proses hukum ini, kita serahkan kepada Allah. Wa makaruu wa makarallah. Semoga mereka yang berani macam-macam melakukan upaya-upaya mengotori penegakkan hukum dan keadilan di negara ini diberi cap yang tak bisa dihapus di keningnya: "Munafik Haqqon".


Sementara itu, mari kita ingat-ingat kembali kewajiban kita sebagai seorang muslim terhadap Al-Qur'an. Jangan sampai habis waktu kita untuk menuntut dan mengawasi si penista Al-Qur'an, sementara kewajiban kita atas Al-Qur'an itu sendiri tidak kita perhatikan.

Baik, seorang muslim punya enam kewajiban yang harus ia lakukan atas Al-Qur'an:

Pertama, Mengimaninya (Al-Imanu Bihi)

Ini kewajiban pertama seorang muslim terhadap Al-Qur’an. Beriman kepadanya. Tidak sah keimanan seorang muslim yang tidak mau mengimani kitab suci Al-Qur'an. Demikian tuntutan dalam rukun iman.

Ayat mana dari kitab suci Al-Qur'an itu yang harus kita imani? Jawabnya adalah seluruhnya: 30 Juz, 114 Surah, 6.236 ayat dari Surah Al-Fatihah sampai An-Nas. Menolak satu ayat berarti menolak seluruhnya. Mengingkari satu ayat sama dengan mengingkari seluruhnya. Karena Al-Imaanu Kullun Laa Yatajaza'. Iman itu harus menyeluruh, tidak boleh separoh-separoh. Beriman 90% tidak boleh. Beriman 99% tidak boleh. Beriman 99,99% juga tidak boleh. Harus 100%. Tidak dibenarkan seorang muslim mengimani sebagian ayat Al-Qur'an, sementara sebagian ayat lainnya ia ingkari. Sebagaimana ia menerima ayat yang mengharamkan memakan babi, ia juga harus menerima ayat yang mengharamkan memakan harta riba. 

Kedua, Membacanya (Tilaawatuhu)

Rasulullah Saw menjanjikan balasan yang luar biasa di akhirat nanti bagi muslim yang mau membaca Al-Qur'an. Bahwa setiap huruf yang dibacanya dari kitab suci Al-Qur'an itu akan diganjar dengan sepuluh kebaikan. Bahkan sekalipun orang membacanya dengan terbata-bata, dia tetap akan mendapat dua pahala; satu pahala untuk membacanya, yang satu lagi untuk terbata-batanya. 

Ketiga, Memahaminya (Fahmuhu)

Kewajiban ketiga ini memerlukan usaha belajar yang berkelanjutan. Setelah membacanya, Al-Qur'an itu wajib dipahami. Dan ini mustahil bisa kita capai kalau kita tidak membaca terjemahnya, karena kita bukan orang Arab dan sebagian besar Umat Islam tidak punya pengetahuan yang bagus tentang Bahasa Arab.

Dalam hal ini, kita mengapresiasi kementerian Agama RI yang sejak awal-awal masa kemerdekaan telah menggagas usaha penerjemahan kitab suci Al-Qur'an ke dalam Bahasa Indonesia, di samping ada juga ulama-ulama lain yang secara individual turut serta berkontribusi menerjemahkan Al-Qur'an itu.

Namun demikian, kita tidak menutup mata dari berbagai kritik membangun yang disampaikan para ulama yang kompeten di bidangnya terhadap sistem dan metode terjemah harfiyah yang digunakan Kementerian Agama. Di antara kritik konstruktif itu disampaikan oleh Ust. Muhammad Thalib dari Majelis Mujahidin Indonesia, yang menyampaikan bahwa metode tarjamah harfiyah itu mengandung banyak sekali kelemahan dari segi kebahasaan sehingga kerap menimbulkan kesalahpahaman pembacanya. Misalnya terjemah QS. Al-Baqarah ayat 191:

"Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir".

Terjemah ayat tersebut di atas berpotensi disalahpahami oleh sebagian Umat Islam untuk melakukan tindakan-tindakan anarkhis terhadap non muslim. Solusinya, Majelis Mujahidin Indonesia menawarkan metode Tarjamah Tafsiriyah sebagai cara untuk menerjemahkan Al-Qur'an. Terjemahan itu disusun dengan kalimat yang lebih moderat namun memiliki makna yang sama dan ditunjang dengan referensi dari kitab-kitab tafsir yang diakui orisinalitas dan validitas keilmuannya. Sehingga terjemah ayat itu menjadi:

"Wahai kaum mukmin, apabila bulan-bulan haram telah berlalu, maka umumkanlah perang kepada kaum musyrik dimana saja kalian temui mereka di tanah haram...".

Memang bagaimanapun juga, tidak akan pernah cukup kita memahami Al-Qur'an hanya dengan membaca terjemahnya saja. Mau tidak mau kita harus juga mempelajari tafsirnya. Dan hal ini perlu bimbingan dari guru yang kompeten. 

Keempat, Mengamalkannya (Al-Amalu Bihi)

Konon, KH. Ahmad Dahlan, Pendiri Persyarekatan Muhammadiyah itu, pernah mengulang-ulang pengajian Surah Al-Ashri sampai delapan bulan lamanya. Kemana saja beliau berdakwah, beliau pasti menyampaikan kajian Surah Al-Ashri ini. Terus begitu dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu daerah ke daerah lain. Kenapa? Karena beliau melihat surah ini tidak diamalkan dengan baik. Banyak orang yang teledor dengan waktunya. Tidak tepat waktu, tidak menghargai waktu. Banyak orang yang tidak memanfaatkan waktu dan menyia-nyiakannya berlalu begitu saja. 

Para sahabat Nabi Saw mengatakan "Kami itu dulu mempelajari Al-Qur'an lima ayat-lima ayat. Kalau kami telah memahaminya, kami langsung mengamalkannya". 

Kelima, Mengajarkannya

Kewajiban kelima ini perlu mendapat perhatian khusus dari setiap muslim. Bahwa kita punya kewajiban untuk mengajarkan Al-Qur'an semampu yang kita bisa. Kalau kita paham tafsir Al-Qur'an, maka ajarkanlah tafsir itu kepada orang lain. Kalau tidak paham tafsir, maka ajarkanlah cara menerjemahkannya. Kalau tak tahu juga, ajarkanlah cara membacanya. Kalau tak sanggup dari Iqro 1 sampai Iqro 6, minimal kita ajarkan Iqro 1 saja. Kalau tak mampu mengajari anak orang lain, minimal kita ajari anak-anak kita sendiri. Kita upayakan, mereka bisa membaca Al-Qur'an itu langsung dari bimbingan kita sebagai orangtuanya. Sehingga setiap huruf yang mereka baca dari Al-Qur'an itu kelak, kita kebagian buahnya. 

Keenam, Membelanya

Kapan kita membela Al-Qur'an? Ketika ada orang yang coba-coba memalsukannya. Satu huruf pun kita jaga dan kita bela dari kelicikan tangan-tangan kotor yang akan menodainya.

Kita juga punya kewajiban membela Al-Qur'an ketika ada orang yang berusaha memanipulasi maknanya. Banyak orang yang memanipulasi makna ayat Al-Qur'an sesuai selera nafsu dan kepentingan mereka. Sesuatu yang terang haram kata Al-Qur'an, terus mereka otak-atik, dibeginikan dan dibegitukan, sampai akhirnya sesuatu itu menjadi halal. Kita wajib membela Al-Qur'an dari orang-orang seperti ini.

Kita juga wajib membela Al-Qur'an, saat ada orang yang menistakannya. Karena ada ghirah disitu. Rasa panas di dalam dada saat sesuatu yang kita banggakan dilecehkan orang lain. Kalau kita orang NU, terus ada orang yang melecehkan NU, ada rasa panas di dada kita, itulah ghirah. Kalau kita orang Muhammadiyah, terus ada orang yang berani-beraninya menghina Muhammadiyah, kita merasa panas di dada, itulah ghirah. Kalau kita punya ibu, kita akan merasa sakit hati saat ada orang yang melecehkannya. Itulah ghirah.

Ghirah ini harus ada pada diri setiap muslim. Terutama kalau yang dinista itu adalah kitab sucinya, Al-Qur'an.

Sebab apa jadinya orang NU yang tenang-tenang saja saat NU dihina?

Sebab apa jadinya warga Muhammadiyah yang tentram-tentram saja hatinya saat Muhammadiyah dicaci maki?

Apa jadinya seorang anak yang diam saja saat ibu kandungnya dilecehkan orang lain?

Dan, apa jadinya seorang muslim yang kalem-kalem saja saat Al-Qur'annya dinista orang lain.

Maka, cukuplah Buya Hamka menutup tulisan ini:

"Kalau agamamu dihina di hadapanmu, dan kamu diam saja, maka segeralah ganti pakaianmu dengan kain kafan!".[] 

Baca Juga [ Senggang ]