Puisi

Pesan Seorang Putra Tapteng Lewat Puisi

Kamis, 24 November 2016 13:18 WIB

Hajairin Tanjung, penulis puisi "Tapanuli Tengah Menguak Tabir"

SIBOLGA, Puisi adalah catatan kaki penyairnya, atau bisa pula sebaliknya, penyair adalah catatan kaki puisi yang ditulisnya.  Catatan itu tidak bisa dipisahkan dari penulis atau penyairnya karena terlahir dari beragam peristiwa yang terjadi di tanah-tanah jauh, di negerinya, di sekitarnya, di dalam keluarganya, dan di dalam dirinya sendiri.

Pendapat kritikus sastra Sapardi Djoko Damono di atas kembali menemukan pembenaran manakala kita membaca puisi karya Hajairin Tanjung yang berjudul Tapanuli Tengah Menguak Tabir di berikut ini. Puisi yang dibacakan oleh penyair Ibukota Herman Syahara dalam acara seminar yang digelar DPP GABEMA Tapteng-Sibolga, seperti menyihir 300-an peserta seminar yang memadati Balai Pertemuan Yenni Sopo Holong, di Sibolga, Tapteng, Sabtu 19 November 2016 itu.

"Puisi itu berisi pesan dan rintihan hati rakyat Tapteng yang merindukan segera terwujudnya kesejahteraan dan keadilan. Siapapun yang memimpin Tapteng nanti, harus membaca dan menghayatinya," kata Hajairin Tanjung tentang puisi yang ditulisnya sehari sebelum acara seminar yang menghadirkan Akbar Tandjung sebagai pembicara kunci itu. Berikut adalah isi puisi selengkapnya:


Tapanuli Tengah Menguak Tabir

Karya:  Hajaririn Tanjung

Tatapan wajah penuh harap
Lelehkan air mata tiada sekejap
Telah lama ini tersekat
Pada ruang-ruang tanpa kedap

Meronta tanpa ada yang bersikap

Tapanuli Tengah yang mempesona
Geliat rakyat semakin meronta
Penuh harap dari himpitan bara-bara derita
Dari kemiskinan yang menganga
Dari kebodohan yang menyiksa
Dari ketidakadilan yang mendera

Siapa yang peduli ini semua?

Hari ini...
Tertumpah semua yang terasa
Menguakkan apa yang melanda
Semua tanpa sekat
Terungkap menyengat

Terlepas menyayat

Hari ini..
Semua menyatukan hati dan rasa
Demi cinta yang lama tertunda
Demi Tapteng yang jaya

Tapanuli tengah menguak takdir..


Baca Juga [ Senggang ]