Hikmah Jumat

Menjadi Guru yang Digugu dan Ditiru

Jumat, 25 November 2016 09:28 WIB

Guru tengah mengajar

Oleh : Didin Rohaedin, S.Pd.I 

Biasanya, baik untuk media cetak ataupun online, saya selalu mengirimkan tulisan-tulisan yang menyoroti suatu permasalahan dengan bahasan yang renyah, ulasan yang sederhana, dan dengan penelitian yang terkesan asal-asalan. Tapi untuk kali ini, untuk tulisan dengan tema guru ini, saya ingin bicara serius. Bukan hanya karena ini adalah Hari Guru, tapi juga karena guru hari ini tengah menghadapi permasalahan dan tantangan pendidikan yang sama sekali tak bisa disebut "renyah", dan mustahil dapat diselesaikan dengan cara yang sederhana, apalagi asal-asalan. So, mari kita bicara serius.

Kita mulai keseriusan itu dari Baghdad, 1200 tahun yang lalu. Saat itu, Imam Bukhari sedang melakukan "safar ilmiah" mencari dan mengumpulkan hadis-hadis Nabi Muhammad Saw yang terserak di pelosok-pelosok negeri yang jauh. Sebagaimana yang kita ketahui, pada waktu itu hadis-hadis Nabi Saw belum lagi dikodifikasi seperti sekarang, tapi tersimpan dalam hafalan dan catatan pribadi ahli-ahli hadis yang tersebar di Mekkah, Madinah, Bashrah, Kufah, Baghdad, hingga di Asia Tengah. Seseorang yang ingin belajar hadis Nabi Saw, mau tidak mau, harus mencari dan menjumpai ahli-ahli hadis itu lalu berguru kepada mereka secara intensif. Untuk ukuran zaman itu, hal tersebut bukanlah pekerjaan mudah. Para pembelajar hadis itu harus rela menempuh jarak ratusan kilometer hanya dengan menunggangi kuda atau unta. Tentu saja dengan berbagai macam rintangan dan ancaman yang senantiasa mewarnai perjalanan mereka, siang dan malam.

Pun demikian Imam Bukhari. Berbulan-bulan lamanya beliau menempuh perjalanan untuk menjumpai seorang ahli hadis yang kabarnya memiliki banyak hafalan dan catatan hadis-hadis Nabi Muhammad Saw. Namun, ketika telah sampai di tempat tujuan, Imam Bukhari harus menelan kekecewaan: Beliau melihat ahli hadis itu sedang membohongi seekor kuda. Dia memanggil kuda itu agar mau masuk ke dalam kandang dengan mengiming-imingi akan memberi makanan dalam keranjang di tangannya, padahal keranjang itu sesungguhnya kosong.

Tindakan ahli hadis itu membohongi kudanya membuat Imam Bukhari kecele. Al-Bukhari menilai, jika kepada binatang dia tega berbohong, tidak menutup kemungkinan kepada manusia pun dia tega berbohong juga. Kalau saat memasukkan kuda ke dalam kandang dia berani berdusta, tidak mustahil hal yang sama akan ia lakukan saat memasukkan hadis ke dalam catatan. Singkat cerita, Imam Bukhari batal berguru kepada ahli hadis itu.

Dua belas abad kemudian, tepatnya pada tahun 1922, di daerah Pekalongan Jawa Tengah, KH. Ahmad Dahlan sedang menyampaikan pengajian. Pengajian itu dihadiri banyak orang, termasuk di antaranya Ahmad Rasyid Sutan Mansur, abang ipar Buya Hamka. Semua hadirin terkesima dengan uraian agama yang disampaikan pendiri Persyarekatan Muhammadiyah itu. Ceramahnya sangat bernas, sarat dengan muatan ilmu dan dalil, serta mudah pahami oleh semua orang, bahkan oleh orang yang paling awam sekalipun. Setelah pengajian itu selesai, AR. Sutan Mansur mengatakan, "Tak diragukan lagi, Ini pasti ulama".

Namun, AR. Sutan Mansur tidak berhenti disitu. Ketika KH. Ahmad Dahlan pulang ke Yogyakarta, diam-diam beliau mengikutinya dari belakang. Ketika KH. Ahmad Dahlan naik kereta api, beliau ikut naik. Ketika KH. Ahmad Dahlan turun di Stasiun Tugu, beliau pun ikut turun. AR. Sutan Mansur merasa perlu memastikan keulamaan KH. Ahmad Dahlan. Sebab, banyak orang yang ulama di atas mimbar, tapi pada kenyataannya bukan ulama. Banyak kiai yang pandai bilang begini dan begitu, namun hidupnya sendiri tidak begini dan begitu. AR. Sutan Mansur ingin memastikan itu.

Maka, ketika KH. Ahmad Dahlan masuk ke dalam rumahnya, AR. Sutan Mansur segera mencari masjid yang paling dekat dari situ. Beliau ingin menguji, kalau betul KH. Ahmad Dahlan itu ulama, besok shubuh dia pasti salat berjamaah di masjid. Dan ternyata benar, ketika besok shubuh AR. Sutan Mansur pergi ke masjid, KH. Ahmad Dahlan sudah duluan berada di dalam.

Cukup sampai disitu? Tidak. AR. Sutan Mansur menilai banyak yang rajin salat, tapi pelit. Banyak orang yang gemar tahajjud tapi tidak peduli dengan penderitaan orang lain, banyak yang ulet beribadah tapi tidak mau menolong sesama. Maka beliau ingin mengujinya lagi. Beliau mendatangi KH. Ahmad Dahlan, lalu mengatakan, "Perkenalkan, nama saya Ahmad Rasyid Sutan Mansur, mau pinjam sarung Pak Kiai untuk dipakai pulang ke Pekalongan". Beliau sengaja mengatakan "Pekalongan" itu untuk memberi kesan bahwa sarung yang dipinjam itu tipis harapan akan dikembalikan. Kalau KH. Ahmad Dahlan orangnya pelit, tentu beliau akan memberikan kain sarung yang sudah jelek, namun kalau beliau memang betul-betul ulama dan peduli dengan sesama, pasti beliau akan memberi kain sarung yang bagus. Hasilnya? Ternyata KH. Ahmad Dahlan memberikan kain sarung yang masih baru.

Singkat cerita, AR. Sutan Mansur akhirnya berguru kepada KH. Ahmad Dahlan, ikut membesarkan organisasi Muhammadiyah, dan pada Kongres Muhammadiyah tahun 1953 beliau terpilih menjadi Ketua Umum PP. Muhammadiyah menggantikan Ki Bagus Hadikoesoemo.

* * *

Apa yang ingin saya ungkapkan dengan latar kisah-kisah di atas adalah sebuah keprihatinan batin bahwa ada sebuah ruang kosong di dalam rumah besar pendidikan kita yang jarang sekali mendapat perhatian dari hampir seluruh penghuni rumah. Ruang kosong itu adalah keteladanan guru. Ketika kita dibenturkan pada masalah-masalah pendidikan, misalnya kian merosotnya moral generasi muda sekarang, yang biasanya segera dilirik lalu dirombak adalah sistem kurikulum. Itupun pada tataran praktisnya tidak banyak mengubah apapun selain hal-hal yang bersifat administratif. Seharusnya, yang menjadi sorotan lalu segera dievaluasi adalah keteladanan guru itu sendiri. Revisi kurikulum adalah hal baik, namun tentu akan menjadi lebih baik kalau kepribadian gurunya juga ikut direvisi.

Dari kisah di atas, kita bisa melihat bagaimana Imam Bukhari begitu selektif kala memilih guru. Kehati-hatian beliau yang tidak mau berguru kepada sembarang orang, menjadi isyarat bahwa tidak sembarang orang bisa menjadi guru. Guru bukan hanya harus punya ilmu dan kecerdasan, bukan sekedar memiliki kompetensi profesional dan pedagogik, bukan hanya menguasai materi ajar dan pandai mengajar, tapi juga harus mempunyai kompetensi kepribadian dan sosial. Seorang guru haruslah orang yang dapat digugu; memiliki perilaku, akhlak, sikap, etika dan kepribadian yang layak diikuti dan dijadikan panutan oleh murid-muridnya. Seorang guru juga haruslah orang yang layak ditiru; bahwa cara bicaranya, cara berpakaiannya, cara nyari duitnya, cara makan dan minumnya adalah teladan dan contoh terbaik bagi murid-muridnya.

Kita lihat sekarang, maraknya kasus-kasus KKN di kalangan pejabat pemerintahan, suap menyuap, uang pelicin, gratifikasi dan lain-lain. Apakah para pejabat yang KKN itu tidak sekolah? Oh, jangan ditanya. Sekolah mereka justru tinggi-tinggi. Gelar akademis mereka mentereng, titel-titel mereka cetar membahana. Apakah waktu di sekolah mereka tidak diajarkan nilai-nilai kejujuran? Tentu saja diajarkan. Namun, hal tersebut biasanya hanya bersifat pengajaran, lebih pada aspek kognitif semata. Mereka diajarkan pengertian jujur, ciri-ciri orang yang jujur, manfaat bersikap jujur, bahayanya kalau tak jujur, dan lain-lain. Mereka diajarkan itu, mereka paham, dan kalau diuji mereka bisa menjawab. Namun pada prakteknya? Mereka tetap KKN juga.

Inilah ruang kosong yang jarang diisi itu. Bahwa bagaimanapun juga, moral dan akhlak itu tidak akan pernah cukup hanya diajarkan semata. Tapi juga butuh keteladanan dan figur panutan siapa orang yang jujur itu. Disinilah seharusnya seorang guru menjalankan tugas dan fungsinya.

Imam Bukhari telah lama memahami konsep ini. Sehingga beliau memutuskan untuk tidak jadi berguru saat melihat calon gurunya itu membohongi binatang. Entah apa jadinya kalau Imam Bukhari hidup pada zaman sekarang, apakah beliau mau belajar kepada seorang guru yang waktu kuliahnya dulu membeli skripsi pada joki? Yang berani memanipulasi data hanya demi sertifikasi?

* * *

AR. Sutan Mansur mengajarkan perspektif lain. Kalau hari ini sebelum masuk sekolah, guru mengetes calon murid. Dulu justru sebaliknya: murid itulah yang mengetes calon gurunya. Layakkah orang ini menjadi guru? Pantaskah orang ini digugu dan ditiru? Sesuaikah ilmu orang ini dengan perbuatannya? Dan seterusnya. Kalau pantas dan layak, dia jadi berguru. Kalau tidak, dia akan cari guru yang lain.

Di zaman sekarang ini, yang mungkin melakukan itu adalah sekolahan. Para pengurus sekolah, mulai dari kepala sekolah, komite, ketua yayasan, dan lain-lain harus punya standar tinggi untuk menyeleksi calon-calon gurunya, terutama pada aspek moral dan akhlaknya. Sehingga tak sembarang orang bisa menjadi guru disitu. Ini penting. Sebab yang akan dihadapi guru-guru itu bukan kambing. Tapi manusia-manusia Indonesia yang harus dididik seutuhnya: fisiknya,  intelektualnya, moralnya, dan spritualnya. Guru-guru itu memegang kunci akan diapakan manusia-manusia ini nanti.

Akhirnya, kepada semua orang yang pernah hadir dalam hidup kami sebagai guru, kepada para pahlawan tanpa tanda jasa, para pendidik insan cendikia, dari lubuk hati yang paling dalam saya mengucapkan: Selamat Hari Guru! Jazaakumullah athyabal jazaa'. []

Baca Juga [ Senggang ]