Tapanuli Tengah: Mata Rantai Zamrud Khatulistiwa

Minggu, 23 Agustus 2015 11:57 WIB

Oleh: Syafriwal Marbun

Cahaya matahari yang bersinar cerah seolah membuat ombak yang datang ke bibir pantai ditaburi berlian yang berpendar-pendar. Latar belakang langit yang biru bersih di sekitar pantai pun membuat para pengembara terkesima. Merekadatang semenjak dahulu kala, semenjak zaman antah berantah, sewaktu mereka membutuhkan kamper getah pohon ajaib yang ada di sini! Ternyata bukan sekedar kamper saja yang memesona, alamnyapun luar biasa.

Ibnu Batutah,Tokoh Muslim asal Maroko yang lahir tahun 1304 M dan sangat gemar melakukan pengembaraan ke seluruh penjuru dunia tak tahan menggoreskan tentang perjalanannya ke negri 'ajaib' ini pada abad ke-14.Selain mampir ke Pasai, Ibnu Batutah juga mampir ke kesultanan di wilayah utara Sumatra yang telah memeluk Islam. Batutah pun membuat catatan bagaimana kehidupan di negeri tersebut. Buku The Indonesia Reader, History, Culture, Politics, -dengan editor Tineke Hellwig dan Eric Tagliacozzo- menulis bahwa Ibnu Batutah melaporkan kehidupan masyarakat Muslim di utara Sumatera itu dalam catatan hariannya.

Dia menulis tanaman yang banyak tumbuh di Pasai adalah pohon kelapa, pinang, cengkeh, gaharu India, pohon nangka, mangga, jambu, jeruk manis, dan tebu. Batutah juga menulis tumbuhan aromatik yang terkenal di penjuru dunia hanya tumbuh di daerah ini.Dahulu memang terdapat komoditas tumbuhan aromatik yang dihasilkan di daerah Barus.

Dalam catatan itu, Ibnu Batutah sampai di pesisir Pasai setelah menempuh perjalanan laut selama 25 hari dari India. "Pulau itu hijau dan subur," tulis Batutah sebagaimana dikutip Dream dari buku The Indonesia Reader, History, Culture, Politics, Selasa 18 November 2014.

Saat sampai di pelabuhan, masyarakat setempat menyambut Batutah dan rombongan dengan ramah. Rakyat di sana datang dengan membawa kelapa pisang, mangga, dan ikan, untuk ditukarkan dengan barang lain yang dibawa pedagang yang singgah.

Inilah negeri yang semenjak berabad-abad silam silih berganti dikunjungi para kelana pengeliling dunia tersohor seperti Marcopolo, pengembara Yunani, Claudius Ptolomeus dan lainnya. Tidak dapat disebutkan para pedagang Yunani, pedagang Venesia, India, Arab, dan juga Tiongkok lalu lalang ke Tapteng (Barus) untuk mendapatkan rempah-rempah. Negeri yang kini lebih dikenal sebagai sebuah kabupaten di pesisir sempit dan panjang di tepi pantai barat Sumatera, yang bernama Tapanuli Tengah (Tapteng). Kabupaten yang membentang lebih dari 200 kilometer dari selatan ke utara. Tapteng meliputi aneka ragam lanskap yang luar biasa baik laut, pulau, gunung maupun sungai-sungainya.

Topografi Kabupaten Tapanuli Tengah sebagian besar berbukit - bukit dengan ketinggian 0 - 1.266 meter di atas permukaan laut. Dari seluruh wilayah Tapanuli Tengah, 43,90% adalah perbukitan yang bergelombang, karena berada di rantai Bukit Barisan, Tapteng  berada di dalam kawasan Cincin Api Pasifik. Sehingga sejak berabad-abad lalu sering dilanda berbagai gempa besar dan tsunami.

Selain  laut di depannya mengandung kekayaan ikan yang melimpah, hutannya pun mengandung kekayaan hayati yang amat terkenal dengan hasil yang dicari para pedagang dunia seperti kamfer (kapur barus0, kemenyan, rotan, damar dan lain-lain.

Jejak sejarah Tapteng yang gilang-gemilang kini hanya tinggal catatan sejarah, semenjak beberapa kali terjadi tsunami (gargasi dalam bahasa Melayu) dalam beberapa abad dahulu yang menghantam dan menyapu kota dan peradaban di wilayah ini, tak satupun bekas peradabannya yang tersisa. Sejarah bisu hanya tinggal di berbagai makam (ada 44 makam yang disebut Aulia 44) antara lain Makam Mahligai, Makam Syekh Mahmud di Papan Tinggi di Tompat. Konon mengapa makam ini berada tinggi di atas bukit adalah karena pasca meninggalnya Syekh Mahmud baru saja Barus dilanda tsunami. Hal ini merujuk pada salah satu ukiran batu pada nisan makam Syekh Mahmud yang berbunyi: "Fa Kullu Syai'un Halikun Illa Wajhullah" yang berarti, "Maka segala sesuatunya hancur kecuali Dzat Allah".

Letak wilayah yang strategis, keanekaragaman potensi sumber laut yang besar dan harmonisnya multietnik masyarakat menyebabkan Tapanuli Tengah sebagai salah satu untaian Zamrud Katulistiwa yakni permata tersembunyi yang akan berkilau dan sangat berharga dengan sentuhan percepatan pembangunan dan peningkatan investasi bersandar pariwisata.

Kabupaten yang memiliki luas wilayah 6.194,98 km persegi yang terdiri atas darat 2.194,98 km persegi dan laut 4.000 km persegi tidak memungkinkan untuk pertanian besar karena lahan tanahnya sempit, juga tidak memungkinkan untuk sektor industri dikarenakan faktor pendukung industri itu sendiri tidak memadai.

Pembangunan ekonomi daerah ini nampaknya lebih memungkinkan di sektor pariwisata, dimana potensi sejarah dan keindahan alamnya dapat dijual untuk menumbuhkan kegitan-kegiatan sektor lapangan usaha lain, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui usaha-usaha sektor formal maupun informal berbasis tourisme.

Pada intinya pembangunan sektor pariwisata itu sendiri merupakan rangkaian usaha yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan kerja, pemerataan pendapatan masyarakat dan peningkatan hubungan ekonomi regional dalam peningkatan investasi daerah sehingga dapat menggairahkan lapangan usaha dengan sektor-sektor ekonom yang ada di Kabupaten Tapanuli Tengah.

Persoalan mendasar masyarakat Tapanuli Tengah, seperti halnya daerah lain di Kawasan Barat Sumatera Utara secara ekonomi selama ini seperti kemiskinan dan pengangguran bisa ditekan dengan melibatkan angkatan kerja berbasis pariwisata ini. Keterbatasan yang melingkupi persoalan Topografi wilayah Tapanuli Tengah yang berbukit, keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan pengelolaan sumberdaya alam, keterbatasan infrastruktur, keterbatasan akses informasi dan keterbatasan arus modal bisa disiasati dengan cara kerja sama di bidang tersebut.

Kita salut pada Bupati Tapteng H Syukran Tanjung, dimana pada peringatan Hari Ulang Tahun Tapteng 24 Agustus 2015 ini, telah mendatangkan 23 orang duta negara-negara sahabat, sebuah prestasi yang luar biasa bisa mendatangkan mereka ke Tapteng dengan tujuan untuk mengenalkan potensi Tapteng di segala bidang. Karena kedatangan para duta-duta besar  ini di pimpin oleh Duta Besar Republik Seychelles Nico Barito, sebuah negara kepulauan di Samudra Hindia dengan 115 pulau, terletak di sebelah timur daratan Afrika dan sebelah timur laut Madagascar. Penduduknya hanya 100 ribu jiwa.

Namun negara yang terkenal dengan pariwisata ini mendapat kunjungan wisatawan hingga 500 ribu pengunjung per tahun. Dari pengembangan pariwisata ini, income masyarakat mencapai USD 30 ribu. Untuk terus mengundang wisatawan ke negaranya, Republik Seychelles telah mengembangkan Seychelles Tourism Word di 20 negara.

Begitu juga sebagian besar duta-duta ini berasal dari negara-negara Arab, kita bisa merayu mereka menamkan investasi ke sini, karena faktor sejarah dari zaman dahulu telah terjalin dan terpatri di sini. Dengan menjelaskan bagaimana para pedagang dan pembawa ajaran Islam tiba dan meninggal di sini (hampir semua yang dikubur di makam-makam tua di Barus berasal dari Arab), tentu tidak begitu sulit merangkul mereka membantu memajukan daerah ini.

Selamat Ulang Tahun Tapteng, semoga jaya dan bertambah maju.


Baca Juga [ Opini ]