Hikmah Jum'at

Ayahku Pejuang!

Jumat, 02 Desember 2016 10:08 WIB

Oleh: Didin Rohaedin


Sejak kemarin, anak-anak kami di SDIT Bunayya Pandan dilatih oleh ummi-umminya menyanyikan lagu penyemangat jiwa "Ayahku Pejuang" gubahan Neno Warisman khusus untuk Aksi Super Damai 212, hari ini. Lirik lagu itu sungguh sangat menyentuh hati terutama karena dinyanyikan oleh anak-anak yang masih belia dan polos itu. Sebagai ayah mereka di sekolah, saya merasa terharu. Saking terharunya, kemarin itu saya terpaksa pamit pulang duluan, meninggalkan mereka di belakang yang melantunkan:

Wahai ayahku engkau pejuang

Jangan ragu teguhkan hatimu

Jalankan perintah Allahmu

Kami semua mendoakanmu

Wahai ayahku engkau pejuang

Kami bangga ayah pemberani

Ajarkan pada kami jadi generasi robbani

Selamat berjuang ayah

Teguhlah dan berani

Selamat berjuang ayah

Surgamu menanti

Kata juang dan berjuang itu memang harus semakin digelorakan dan digairahkan kembali hari-hari ini mengingat kondisi Islam dan Indonesia ke depan, kata para ahli, akan semakin sulit dan berat. Bukan pesimis atau bermaksud menakuti-nakuti, namun rentetan fakta yang kita lihat belakangan sepertinya terlalu besar untuk dibuang begitu saja dan dianggap tidak memiliki saham dengan kebangkrutan Indonesia di masa mendatang. Apakah data yang dirilis Bank Dunia awal tahun 2015 tentang 74% tanah di Indonesia dimiliki dan dikuasai oleh hanya 0,2% penduduk Indonesia bukan masalah besar? Apakah penegakan hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas yang dipertontonkan bak lelucon oleh penghuni negara ini tidak akan membuat bangkrut Indonesia ke depan? Tidakkah berton-ton sabu yang masuk setiap hari ke Indonesia akan menghancurkan jiwa dan raga generasi bangsa ini di masa mendatang? Apakah sulit dipahami bahwa sumber daya alam yang begitu melimpah di Indonesia kelak akan menjadi petaka saat seluruh bangsa di dunia mengalami kelaparan global akibat krisis minyak?

Apakah ke depan Indonesia akan bangkrut? Tidak tahu juga. Namun yang pasti, kebangkrutan akan menimpa siapa saja yang tak mau lagi bergandengan tangan dengan kata juang dan berjuang itu.

Apakah di Indonesia tak ada lagi pejuang? Saya lebih tidak tahu lagi. Banyak kriteria untuk mengukur seseorang pejuang atau bukan. Dan lebih banyak lagi orang yang dianggap pejuang padahal sesungguhnya ia hanya pecundang. Orang melihat ia sedang berjuang, berdarah-darah membela nasib rakyat kecil di parlemen, padahal aslinya dia hanya pecundang pengemis saham dan jabatan.

Dari banyak kriteria seorang pejuang itu, kita ambil satu saja. Misalnya, seseorang itu dikatakan pejuang kalau dalam melakukan suatu pekerjaan, apapun itu, ia tidak memiliki motivasi primer yang berbau-bau duit dan materi. Guru itu pejuang, bahkan pahlwan, kalau dalam perannya sebagai guru itu dia melakukanya bukan terutama karena uang dan gaji, tapi karena ada nilai lain yang lebih luhur dan mulia yang ia perjuangkan dengan menjadi guru itu, misalnya: Menabung jariyah dengang menyampaikan ilmu. Seorang anggota DPR itu pejuang, kalau dalam kedudukannya sebagai anggota dewan ia bekerja semata-mata untuk mengupayakan kesejahteraan hidup rakyat yang memberinya amanat. Uang dan materi pasti ia peroleh juga, tapi itu bukan tujuan utama. Seorang nelayan itu pejuang, kalau saat berangkat melaut nawaitu-nya adalah ikhtiar memenuhi kewajiban memberi nafkah keluarganya, bukan hanya untuk uang dan kekayaan saja.

Akan tetapi, siapa yang bekerja dengan niat begitu sekarang? Semua sudah serba duit dan meteri, sarat dengan hasrat dan kepentingan, kata teman saya di masjid beberapa hari yang lalu. Jangankan masalah pekerjaan, bahkan untuk salat yang sudah jelas-jelas ibadah dan kewajiban utama, orang masih berani main duit dan materi. Maksudnya? Tanya saya. Dia jawab: "Andai saja salat berjamaah di masjid itu dibayar, bilang saja dikasih Rp, 50.000,- perorang setiap salat, saya yakin akan berbondong-bondong orang salat bejamaah di masjid-masjid". Mari berhitung, kalau sekali salat dibayar tunai Rp, 50.000,-, maka dalam sehari semalam orang bisa dapat duit Rp, 250.000,- hanya dengan salat berjamaah di masjid.

Ah, tentu saja itu hanya guyon, lagi pula siapa yang mau bayar. Berapa banyak uang yang harus dikeluarkan setiap waktu salat, kali lima dalam sehari, kali 30 dalam sebulan. Tapi seandainya itu terjadi. Ada orang yang bersedia membayar, dan ternyata jumlah jamaah salat di masjid-masjid jadi membludak, saya tak bisa ngomong apa-apa lagi tentang kata juang dan berjuang.

Aroma perjuangan itu hanya bisa saya hirup dari arah sana, arah tugu monas. Tugu itu akan menjadi monumen nasional yang menjadi saksi derap langkah kaki para pejuang pembela Islam yang melakukan Aksi Bela Islam jilid tiga: Aksi Super Damai 212. Mereka bergerak dan melangkah maju diiringi pekikan bangga dari anak-anaknya: "Ayahku pejuang!".

Maka, ketika kemarin di sekolah anak-anak kami meneriakkan "Ayahku pejuang, kami bangga ayah pemberani", saya bergegas pulang duluan. Untuk semua kata dan kalimat dalam lagu itu, saya merasa tidak pantas.

Baca Juga [ Senggang ]