Hikmah Jum'at

Salah Kaprah Memahami Rahmatan Lil'Alamin

Jumat, 09 Desember 2016 09:44 WIB

Ilustrasi

Oleh: Didin Rohaedin

Seusai Perang Hawazan, dihadapkan kepada Nabi Saw tawanan anak-anak dan perempuan. Nabi Saw memperhatikan mereka satu per satu. Tampaklah seorang tawanan perempuan yang sibuk sendiri. Ia berlari-lari kesana kemari mencari bayinya, buah hatinya. Ia mendatangi setiap balita yang sedang disusui ibunya. Ia memeriksa wajah mereka satu per satu, berharap anaknya ada disitu. Ia ingin segera mencium, menyusui dan memeluk anaknya erat-erat, meskipun untuk itu ia harus mengorbankan hidupnya.

Beberapa saat kemudian ibu itu menemukan bayinya. Melihat sang anak, seketika air matanya mengering. Ia segera memeluknya. Tangisan anak itu membuat kasih sayangnya kian meluap. Ia dekap dan ciumi anaknya itu dengan lembut, lalu ia rapatkan ke dadanya untuk disusui.

Ketika Nabi Muhammad Saw melihat itu, beliau berpaling kepada para sahabat dan berkata, "Bagaimana pendapat kalian, kalau dihadapkan kepada ibu itu kobaran api yang sangat besar, relakah ia melemparkan anaknya ke dalam kobaran api itu?". Para sahabat terkejut mendengar pertanyaan itu. Bagaimana mungkin ia rela melemparkan anaknya ke dalam api, sementara ia sangat menyayanginya. Mereka segera menjawab, "Tentu tidak, ya Rasulullah! Demi Allah, ibu itu sangat menyayangi anaknya. Mustahil ia tega melakukannya". Mendengar jawaban para sahabat itu, segera Nabi Saw menimpali, "Maka Demi Allah, sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu itu kepada anaknya".

Kisah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim itu harus kita potong disini. Walaupun singkat, cukuplah sebagai gambaran tentang besarnya rahmat dan kasih sayang Allah Swt kepada kita, hamba-hamba-Nya. Bahwa, kalau ada di antara kita yang punya penghasilan satu milyar rupiah per jam, sehingga ia bisa memperoleh uang lebih kurang 300 M dalam sebulan, apalah arti semuanya kalau Allah mencabut rahmat oksigen hanya dalam waktu 1 jam.

Allah Swt Maha Pengasih yang tidak pilih kasih, Maha Penyayang yang tidak pilih pandang. Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Sampai-sampai dalam pengutusan seseorang menjadi rasul, Allah tidak memiliki misi apa-apa selain misi rahmat itu. Wamaa arsalnaaka illa rohmatan lil'alamin. Dan tidaklah kami mengutusmu (Muhammad) selain untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

Walaupun belakangan ini konsep rahmatan lil 'alamin telah mengalami distorsi dan penyelewengan makna yang amat sangat jauh dari makna yang sesungguhnya. Dengan sangat mudah orang mengatakan rahmatan lil alamin, tanpa pernah mempelajari apa tafsirnya, bagaimana maksudnya, seperti apa relevansinya.

Kata rahmatan lil 'alamin hari-hari ini, dan akan semakin deras beberapa minggu kedepan, terus dijadikan dalih oleh sebagian orang untuk bersikap toleransi kepada sema pemeluk agama dengan cara-cara yang terlampau berlebihan. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi toleransi. Tapi tidak dengan berlebihan. Yang saya maksud dengan berlebihan itu umpamanya seperti ini: Ada orang yang tidak mau mengucapkan selamat natal kepada pemeluk agama Kristen. Karena dalam pemahaman yang ia yakini, Tuhan itu tidak beranak dan tidak diperanakkan. Berulangkali dalam Alqur'an yang ia baca, Allah menegaskan ketidaksukaan-Nya terhadap keyakinan-keyakinan yang mengatakan bahwa Dia punya anak. Bahkan langit, bumi dan gunung-gunungpun tidak rela Tuhan mereka dikatakan punya anak. Itu pemahaman orang itu sehingga ia tidak mau mengucapkan selamat natal; selamat hari kelahiran anak tuhan. Lalu, Anda mengatakan kepada orang itu, "kamu tidak rahmatan lil alamin!".

Kita jadikan rahmatan lil alamin itu dalih untuk melegalisir sesuatu yang amat dibenci Allah. Ini jelas pemaknaan yang salah kaprah. Padahal rahmat lil alamin tidak begitu maknanya. Ayat itu, QS. Al-Anbiya ayat 107 tidak bisa dipahami kecuali digandengkan dengan ayat ke-7 Surah Al-Hasyr: Wa Maa aatakumur rosuulu fakhudzuuhu wa maa nahaakum anhu fantahuu. Apa yang diberikan rasul itu kepadamu maka ambillah. Dan apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah. Kedua ayat ini memiliki kaitan sebab akibat. Bahwa kalau ajaran yang disampaikan oleh rasul itu kita taati; yang diperintahkannya kita laksanakan; yang dilarangnya kita tinggalkan, maka hal itu pasti akan membuahkan hasil rahmatan lil alamiin. Menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Kita ambil satu contoh sederhana. Nabi Saw mengajarkan "kebersihan itu sebagian dari iman". Ini ajaran yang beliau sampaikan. Agar kita hidup bersih, rapih, indah: tidak buang sampah sembarangan, tidak buang sampah ke sungai dan selokan. Kalau ajaran ini ditaati, maka akan tercipta rahmat. Tidak ada sungai yang dipenuhi sampah. Tidak ada sungai yang mampet alirannya, sehingga saat turun hujan tak ada banjir. Sebaliknya, kalau ajaran ini tidak dilaksanakan, maka yang akan terjadi adalah laknat, bukan rahmat. Orang buang sampah sembarangan, orang seenaknya buang sampah ke sungai dan selokan. Akibatnya? Sungai dipenuhi tumpukan sampah, aliran air jadi mampet. Ketika hujan turun, air meluap kemana-mana, menggenangi pemukiman dan rumah-rumah penduduk. Rahmatan lil alamin tidak tercapai saat orang meninggalkan ajaran sang rasul.

Contoh lain, Nabi Saw mengajarkan, "kalau kamu mengangkut barang bawaan di atas binatang tunggangan, jangan kamu bebani dia kecuali dengan kadar kesanggupannya". Ini ajaran Rasulullah Saw agar berkasih sayang terhadap segala sesuatu, bahkan kepada binatang sekalipun. Jangan bebani binatang tunggangan kecuali sesuai dengan kemampuannya. Kalau binatang itu cuma sanggup pikul beban 50 kg, jangan kamu bebabani dia 70 kg. Itu tidak rahmat namanya. Kalau ajaran ini kita proyeksikan ke zaman kita sekarang, bisa jadi maknanya: jangan kita mengangkut beban di atas kendaraan kita; di atas mobil dan truk kita, kecuali sesuai dengan voltase dan daya angkat kendaraan itu. Kalau mobil kita cuma sanggup bawa 10 kwintal, ya jangan dipaksa bawa 20 kwiintal. Yakinlah, hal itu tidak akan menjadi rahmatan lil alamin. Bayangkan, karena beban yang terlampau berat, mesin mobil kita jadi cepat rusak, banyak onderdilnya yang cepat sekarat. Selain itu, setiap jalan yang kita lewati jadi cepat rusak dan berlubang. Akibatnya, akan banyak orang lain yang mengalami kecelakaan karenanya.

Itulah yang akan terjadi kalau ajaran Nabi Saw tidak dilaksanakan. Jauh dari Rahmatan lil alamin. Itu baru dua contoh kecil. Belum lagi dalam hal-hal lain yang jauh lebih penting dan besar. Kesimpulannya, rahmatan lil alamin adalah buah manis yang akan dirasakan saat kita menaati ajaran yang dibawa Rasulullah Saw; yang disuruh dilaksanakan; yang dilarang ditinggalkan. Sama sekali tidak tentang toleransi yang berlebihan seperti yang banyak didengung-dengungkan itu.

Baca Juga [ Senggang ]