4 Hikmah Besar di Balik Maulid Nabi Muhammad Saw

Rabu, 14 Desember 2016 17:35 WIB

Oleh: Ir. H. Buyung Sitompul


14 abad lalu, planet bumi ini diliputi dengan kejahiliyahan. Di sebelah barat, ada Imperium Romawi, sebuah negara yang sangat besar dan sudah sangat maju peradabannya: ilmu pengetahuan dan teknologinya, sosial dan budayanya, ekonomi dan politiknya, termasuk hukum dan militernya. Mereka menganut agama Katholik dan mengimani Kitab Suci Bible atau The New Testamen. Namun sayang, mereka masih memiliki sisi kejahiliyahan yang sangat mengerikan, yaitu sistem perbudakan. Warga negara Romawi yang berstatus sebagai budak, binatang lebih dihargai daripada mereka. Sehingga para pejabat negara dan pembesar-pembesar agama saat itu sangat menyenangi sebuah acara pertunjukkan bernama Gladiator, budak dengan budak diadu, disuruh bertarung, dan kalau sudah ada yang mati, mereka bersorak gembira, merasa pertunjukkan itu sukses. Kadangkala budak-budak itu dipaksa bertarung dengan binatang buas, dengan singa, harimau atau srigala. Bahkan, seorang Kaisar Romawi bernama Nero pernah membunuh lebih dari 600 orang budak, mereka dibakar hidup-hidup lalu ditancapkan di kanan dan kiri jalan layaknya lampu penerang, kemudian kaisar itu berjalan di tengah-tengahnya. Inilah jahiliyah Romawi, di bumi bagian Barat.

Di sebelah timur, ada Negara Persia, agamanya Majusi, kitab sucinya Avista Sandinista. Seperti Romawi, peradaban di negara Persia juga sudah sangat maju, bahkan dalam bidang peraturan dan hukum, mereka telah memiliki kitab undang-undang sendiri yang bernama Hamurabi. Akan tetapi, undang-undang, peraturan dan hukum itu hanya berlaku untuk rakyat kecil. Kalau rakyat kecil berbuat salah, mereka dihukum seberat-sebaratnya, dipotong dua tangan dan kakinya, dilemparkan ke jurang, dicampakkan ke hutan sebagai umpan binatang buas. Tapi kalau yang bersalah itu penguasa atau kenalannya penguasa atau yang dekat dengan penguasa atau tukang cukurnya penguasa, tidak ada ceritanya kena hukuman. Inilah jahiliyah Persia, di bumi bagian timur.

Di barat ada Romawi jahiliyah, di timur ada Persia yang juga jahiliyah, di tengah-tengah ada bangsa Arab, bangsa yang sempurna jahiliyahnya: tidak mengenal apa itu agama, tidak punya kitab suci, tidak ada peradaban dan budaya. Hidup bersuku-suku yang satu sama lain mudah saling perang hanya karena berebut rumput atau air. Kalau punya anak perempuan, pasti dikubur hidup-hidup karena takut menjadi beban. Kalau seorang ayah mati dan istrinya masih cantik, istrinya itu dikawin oleh anak laki-lakinya. Tidak ada pendidikan. Waktu itu yang bisa baca tulis tidak lebih dari sepuluh orang, selebihnya buta huruf tak pandai membaca dan menulis.

Di tengah-tengah masyarakat yang seperti itu, pada Bulan Rabi'ul Awwal tahun Gajah, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Muhammad Saw. Semenjak berusia dua bulan dalam kandungan, ayahandanya meninggal dunia. Lahir sebagai yatim, Muhammad kecil diasuh oleh ibunya. Baru berumur enam tahun, ibundanyapun meninggal. Kemudian beliau diasuh oleh kakeknya yang bernama Abdul Muthallib, tapi baru berumur delapan tahun, kakeknya itupun meninggal dunia. Menurut pakar sejarah, cobaan demi cobaan yang menerpa kehidupan beliau ini adalah didikan pertama dari Allah Swt untuk menempa dan membentuk kepribadiannya agar memiliki hati dan jiwa yang besar.

Nah, yang menggemparkan dan mengagetkan semua orang, Muhammad yang buta huruf, yatim piatu, dan berasal dari bangsa yang terbelakang peradabannya ini tiba-tiba mengatakan: Iqro' bismi Robbikal lazii kholaq. "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan". Melalui ayat ini beliau mengajarkan kepada umatnya bahwa kalau sebuah bangsa ingin maju, ingin manjadi bangsa yang berharkat dan bermartabat, berperadaban tinggi dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain, modal utamanya adalah membaca. Setiap elemen bangsa itu harus membuka mata dan pikiran mereka untuk menyerap dan memproses ilmu sehingga melahirkan rumusan-rumusan rasional dan aplikatif untuk diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan sprit yang terkandung dalam ayat itulah Nabi Saw dan para sahabatnya bersatu bahu membahu, sedikit demi sedikit mulai menata hidup dan kehidupan mereka. Sampai akhirnya, mereka membuat semua mata terpesona karena dalam waktu yang relatif singkat, berhasil memimpin dunia, menghapus kejahiliyahan Romawi dan Persia, serta mengubah raut wajah sejarah bangsa Arab dari yang awalnya bodoh dan terbelakang menjadi bangsa yang maju dan berperadaban. Beliau menghapus sistem perbudakan yang telah lama diadopsi Imperium Romawi dan menggantinya dengan mengangkat harkat martabat manusia sampai-sampai Bilal bin Robbah, budak hitam yang hina dina itu, menjadi mulia karena beliau angkat menjadi mu'azin. Beliau menegakkan hukum dengan seadil-adilnya, tak tajam ke bawah dan tumpul ke atas seperti di negara Persia, tapi beliau perlakukan semua orang sama di depan hukum. Sampai-sampai beliau mengatakan, "Seandainya anakku Fathimah mencuri, aku juga pasti akan memotong tangannya".

Maka, pada momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw ini, ada baiknya kita mulai meniru dan meneladani perikehidupan beliau dalam segala aspek kehidupan kita. Mari kita petik hikmah dari kelahiran Nabi Muhammad Saw ini, untuk kita proyeksikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam hal mewujudkan cita-cita kita membangun Kabupaten Tapanuli Tengah yang kita cintai ini. Setidaknya ada 4 hikmah besar yang bisa kita petik dari Maulid Nabi Muhammad Saw ini, yaitu:

Pertama, Tugas-tugas Besar Hanya Mampu Dipikul oleh Orang-orang yang Berpikir dan Berjiwa Besar.

Kita belajar dari pengalaman hidup Nabi Saw yang sejak masih dalam kandungan ibunya telah diterpa dengan berbagai macam cobaan ditinggalkan oleh orang-orang tercinta. Beliau ditempa untuk menjadi orang yang berpikir dan berjiwa besar karena memang dipersiapkan untuk memikul beban yang juga sangat besar. Mengubah, memimpin dan membangun dua pertiga bumi tentu bukan pekerjaan kecil.

Demikian halnya membangun Kabupaten Tapanuli Tengah yang kita cintai ini. Ini adalah tugas dan pekerjaan besar yang tidak mungkin dapat dipikul dan dilaksanakan kecuali oleh orang-orang yang juga berpikir dan berjiwa besar.

Kedua, Kita Harus Memiliki Semangat Besar untuk Membaca.

Membaca adalah salah satu ikhtiar untuk memahami setiap gejala dan peristiwa yang ada di sekeliling kita, sehingga kita bisa mengupayakan solusi dan jalan keluar untuk setiap permasalahan yang dihadapi, tanpa mudah tertipu dan terbawa arus. Dengan spirit membaca ini dulu Nabi Saw memahami permasalahan yang tengah dihadapi umatnya. Beliau menemukan bahwa sistem perbudakan dan penegakan hukum yang tebang pilih itu adalah akar permasalahan yang menyengsarakan manusia. Maka, beliau segera mengentaskan kedua masalah itu sebelum masalah-masalah lainnya.

Pemimpin seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat Kabupaten Tapanuli Tengah lima tahun kedepan, pemimpin yang mampu membaca dan memahami kebutuhan dan permasalahan yang sedang dihadapi rakyatnya, sehingga setiap butir dalam visi dan misinya adalah upaya serius untuk mengentaskan permasalahan-permasalahan itu.

Ketiga, Setiap Orang Harus Memiliki Cita-cita Besar.

Lihatlah Nabi Muhammad Saw, walaupun beliau dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah bangsa yang jahiliyah, terbelakang dalam budaya dan peradaban, beliau tidak serta merta berputus asa. Dalam kondisi seperti itu, beliau justru menampilkan semangat dan cita-cita besar untuk mengubahnya. Cita-cita besar itu kemudian mengalir deras dalam doa dan usahanya. Walaupun orang-orang kemudian menghalangi dan memitnahnya. Mereka memitnah Nabi sedang mencari popularitas, mengumpul-ngumpul harta kekayaan dan mengejar pangkat dan jabatan.

Sebagai muslim, kita mesti meneladani akhlak Nabi Saw ini. Ketika kita punya cita-cita besar untuk membangun, akan banyak tangan-tangan usil yang coba menghalangi dan merintangi. Kita tidak boleh menyerah, berkecil hati, apalagi putus asa.

Keempat, Kita Harus Selalu Bergantung Kepada Allah Yang Maha Besar.

Nabi Saw mengajarkan hal ini bahkan sejak dalam proses membaca. Iqro', bacalah. Tapi tak cukup sekadar membaca. Bismirobbikal lazii kholaq. Dalam hal membaca itu harus dengan menyebut, mengaitkan, menggantungkan dan memohon pertolongan dari Allah yang telah menciptakan.

Bahwa apapun yang kita cita-citakan dan kita usahakan, sebesar apapun cita-cita itu dan sekuat apapun kita mengupayakannya, tidak akan pernah dapat terwujud tanpa pertolongan dari Allah Yang Maha Besar. Seorang pemimpin dan seluruh rakyatnya tak boleh merasa bisa mengatasi segalanya. []

Baca Juga [ Senggang ]