Mengapa gua menjadi tempat terbaik untuk melatih astronot?

Minggu, 18 Desember 2016 06:31 WIB

Pelatihan di gua mengajarkan kemampuan bekerja di ruang sempit dan tekanan tinggi pada tim multikultural, sambil tetap melakukan penelitian ilmiah atau pemetaan wilayah.

Saat manusia terakhir kembali dari Bulan, mereka datang dengan membawa sampel bebatuan dari sana. Meski menarik secara geologis, namun sampel ini tak menunjukkan bagaimana awal kehidupan di Bumi, atau apakah ada tempat serupa di sistem tata surya yang mendukung kehidupan.

Pada saat itu, sepertinya tak ada yang hidup di luar sana, tapi ketika kita mengunjungi planet terdekat kita sesudah itu, mencari bukti kehidupan menjadi prioritas penting.

Jika manusia akan menjejakkan kaki sekali lagi di planet lain di sistem tata surya kita dan mulai mencari tanda-tanda kehidupan, mereka akan melakukannya setelah berlatih di salah satu lingkungan yang paling sulit di Bumi karena gua adalah persiapan terbaik bagi penjelajah pemberani ini.

Itulah sebabnya Badan Luar Angkasa Eropa, Esa, telah mengirimkan astronot untuk melakukan ekspedisi dua minggu untuk mencapai, memetakan dan hidup di dalam gua-gua Sardinia sejak 2011.

GuaImage copyrightISTOCK
Image captionGua dan berbagai dataran yang kering memungkinkan astronot untuk berlatih menghadapi permukaan dunia-dunia lain.

Jaringan gua yang digunakan oleh Esa untuk latihan pada musim panas ini mirip dengan planet lain. Enam astronot dari Cina, AS, Jepang, Rusia dan Spanyol menghabiskan enam hari dalam kegelapan, turun 800 meter ke bawah tanah, menjelajah dan memetakan salah satu kawasan yang paling sedikit dijelajahi di Bumi.

Lokasi yang dipilih, 'Sa Grutta', terbentuk oleh air yang menjadi sumber kehidupan melewati saluran-saluran, dan melarutkan bebatuan. Gua-gua itu beragam, mulai dari yang berlubang kecil dan hanya bisa dimasuki dengan merayap atau dengan ukuran ruang yang seperti katedral. Sebagian gua kering, dan gua lainnya butuh pakaian selam untuk melaluinya.

Misi itu disebut Caves atau Petualangan Kooperatif untuk Menilai dan Melatih perilaku manusia dan Kemampuan. Pelatihan ini adalah inisiatif Esa untuk mengajarkan kemampuan bekerja di ruang sempit dan tekanan tinggi pada tim multikultural, sambil tetap melakukan penelitian ilmiah atau pemetaan wilayah.

Bukan hanya sulit untuk bergerak melalui gua-gua ini, tanpa cahaya matahari tentu sulit bagi para astronot menentukan ritme mereka, persepsi mereka akan waktu berubah dan pola tidur mereka terganggu sama halnya seperti yang akan terjadi di luar angkasa.

Prosedur bergerak melalui jaringan gua, yang hanya menggunakan tali keselamatan, membuat keputusan penting dan berkomunikasi dengan jelas, sangat mirip dengan berjalan di luar angkasa. Baik speleologis dan astronot menggunakan "buddy system" ( di mana dua atau beberapa orang bekerja sama sebagai satu unit) saat berjalan di luar angkasa atau saat menjelajah gua, dan instruktur mengulang teknik pembelajaran yang sama, bahwa 'lambat itu cepat' dan 'periksa alatmu dan percayalah padanya'.

Penelitian ilmiah membentuk bagian inti dari rutinitas keseharian astronot di gua, sama halnya seperti di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Mereka melakukan lima eksperimen dalam sehari, mengambil sampel geologi dan mikrobiologi dari lingkungan tersebut untuk menemukan bukti kehidupan yang unik yang sudah beradaptasi dengan tantangan hidup tanpa cahaya dan mineral yang mendukung kehidupan.

Misi Caves juga melatih astronot di permukaan yang mirip dengan permukaan planet lain. Lanzarote Geoparque adalah tempat yang tepat untuk melatih misi ke Mars, contohnya, karena permukaan yang berbatu-batu. Di sinilah ahli geologi, penjelajah dan perancang kursus Caves Francesco Sauro menawarkan panduannya sebagai pakar untuk mengenali sampel bebatuan yang menarik secara biologis di lingkungan yang mirip dengan luar angkasa. Fokus Sauro adalah proses sedimenter yang menandai adanya air dan membedakan antara meteor dengan bebatuan.

GuaImage copyrightSCIENCE PHOTO LIBRARY
Image captionAstronot seperti Tim Peake sudah lebih dulu berlatih di gua sebelum misi luar angkasanya

"Kami menciptakan kursus yang memungkinkan astronot pada misi masa depan ke planet-planet lain untuk menemukan daerah terbaik yang bisa dieksplorasi dan bebatuan yang paling menarik secara ilmiah untuk bisa diambil sebagai sampel dan dianalisis lebih lanjut oleh ilmuwan ketika mereka kembali ke Bumi," kata Sauro.

Sauro adalah orang yang tepat untuk melatih tim astronot dalam mencari tanda-tanda kehidupan di lingkungan paling menantang di Bumi. Dia tak hanya pernah menemukan tanda kehidupan di gua, tapi juga ahli dalam menemukan gua di tempat-tempat yang awalnya tak diduga. Pencapaian terbesarnya adalah menemukan gua Imawari Yeuta di Amerika Selatan.

Jaringan gua Imawari Yeuta yang juga disebut 'Rumah Para Dewa' adalah gua-gua kuarsa di pegunungan Tepui di Venezuela. Biasanya, kita tidak akan menemukan gua-gua di pegunungan yang terbuat dari kuarsa, karena sangat resisten terhadap air maka jejaring gua ini sangat tidka biasa. Gua ini menunjukkan bahwa pegunungan dan lanskap di sekitarnya pasti sangat tua. Diperkirakan gua-gua ini adalah yang tertua di dunia sekitar 50 sampai 70 juta tahun.

Sauro menjelajahi Imawari Yeuta dengan kelompok yang diorganisir lewat La Venta tim internasional speleologis. Saat komunitas adat mengatakan bahwa ada gua yang tersembunyi di hutan hujan Venezuela, tim eksplorasi dari La Venta mulai mencarinya. Pencarian tersebut mulai dilakukan pada 1995, namun sampai 2003 masih belum ditemukan.

Gambar awal menunjukkan lubang yang dalam dan pecahan di bawah gunung, namun sebuah temuan tak sengaja dari sekelompok pendaki mendorong mereka untuk mencari di ketinggian.

Dengan menggunakan citra satelit dan survey udara, tim mengidentifikasi permukaan yang kolaps pada lanskap yang menandai adanya jaringan gua di bawahnya. Eksplorasi lebih jauh menunjukkan jaringan gua yang sebelumnya tak pernah tercatat.

GuaImage copyrightISTOCK
Image captionBanyak gua di Bumi yang mengandung air - mungkinkah di planet lain gua juga berisi air?

Kemungkinan kecil untuk menemukan gua di bebatuan kuarsa dan sulitnya mencapai puncak gunung di mana Imawari Yeuta terletak, semakin membuat gua ini tersembunyi. Untuk mencapai mulut gua, peneliti harus terbang menggunakan helikopter yang bisa berbahaya atau mendaki selama berhari-hari melalui hutan hujan.

Ketika grup Sauro mulai mengeksplorasi Imawari Yeuta, mereka tak tahu apa yang mungkin mereka temukan. Tak seperti eksplorasi gua biasa, speleolog tak bisa memprediksi apa yang ada dalam sistem gua seperti Imawari Yeuta, yang sangat tua dan masih sedikit diketahui.

"Hal paling mengagumkan buat saya adalah gua-gua ini sangat tua berjuta-juta tahun sehingga mereka adalah saksi masa lalu," kata Sauro. "Dan memasuki lingkungan yang sama sekali tidak tersentuh selama jutaan tahun, dan informasi yang tertangkap oleh gua-gua ini masih berada di sana, seperti perpustakaan raksasa untuk menemukan informasi soal nenek moyang, tentang kehidupan di masa lalu."

Dengan mempelajari dunia kuno ini, Sauro berharap untuk bisa memahami lebih baik akan kehidupan mikroba awal yang terawetkan karena terisolasi. Apa yang bisa dipelajari dari mikroba ini bisa menjadi penting dalam memahami bagaimana kehidupan bisa muncul dalam planet lain pada tata surya kita.

Apakah mereka hidup di lingkungan yang serupa, dingin, gelap, dan basah, seperti yang ditemukan Sauro di Imawari atau apakah mereka menemukan cara hidup yang lain dalam beradaptasi dengan isolasi yang ekstrem kehidupan apapun mungkin memiliki kesamaan dengan kehidupan mikroba primitif di Bumi.

Sauro menjelaskan bagaimana dia menemukan mineral baru di gua yang besar ini rossiantonite dan contoh kehidupan yang mungkin sudah berevolusi selana jutaan tahun di bawah tanah, terpisah dari dunia luar.

"Gua adalah saksi sejarah geografis," kata Sauro. "Gua mengawetkan jauh lebih banyak daripada permukaan. Mereka adalah arsip waktu, evolusi lanskap dan kehidupan."

Dengan pelajaran yang mereka dapat dari Sauro dan pelatihan Caves dari Esa, astronot generasi ke depan punya persiapan lebih baik. Pertanyaan akan kapan manusia akan kembali melangkah ke planet lain masih tak terjawab, tapi dengan penelitian dari speleolog seperti Sauro, kita akan lebih dapat memahami kehidupan yang mungkin muncul dari 'rumah' yang mirip seperti gua-gua itu.

William Park

BBC Future



Baca Juga [ Senggang ]