Hikmah Jum'at

Langit Pecah, Bumi Terbelah

Jumat, 23 Desember 2016 09:48 WIB

Oleh: Didin Rohaedin

Tulisan ini akan saya awali dengan beberapa ayat Al-Qur’an yang termaktub dalam surat Maryam ayat ke 88 sampai dengan 92. Allah Swt berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا() لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا ()تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الأرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا()أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا() وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا

Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak". Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (QS. Maryam: 88-92).

Wa qoolut takhodzar Rohmaanu waladaa: Dan mereka berkata bahwa Tuhan Yang Maha pengasih itu mempunyai anak. Ayat ini Allah turunkan 14 abad yang lampau, menginformasikan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat yang hidup pada masa itu bahwa ada sekelompok manusia di muka bumi ini yang mengatakan bahwa Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Jadi, kalau di jaman sekarang ada orang yang meyakini Allah mempunyai anak, kemudian merayakan hari kelahiran anak Allah itu, lalu saling mengucapkan kata selamat; kita jangan heran, sebab dari dulu juga sudah ada. Tinggal masalahnya, bagaimana kita menyikapi orang-orang yang punya keyakinan seperti itu.

Kalau sudah berbicara masalah keyakinan, maka tidak ada sosok yang paling pantas untuk kita ikuti dan teladani selain Nabi Muhammad, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena beliau juga pernah melihat dan menyaksikan, bahkan sempat hidup berdampingan dengan orang-orang yang berkeyakinan bahwa Allah itu punya anak. Tapi bagaimana sikap Nabi kepada mereka? Apakah Nabi ikut-ikutan merayakan perayaan mereka? Memberikan ucapan selamat kepada mereka? Di sinilah seorang muslim harus cerdas.

Dalam ayat selanjutnya Allah Swt mengatakan, laqod ji’tum syai’an idda: sungguh kalian telah membawa sesuatu yang sangat munkar. Kenapa dikatakan “sesuatu yang sangat munkar”? Karena kalimat semacam itu tidak pantas disandarkan kepada Allah Swt, tidak pantas dikaitkan dengan Allah Swt. Karena Allah tidak mempunyai anak. Allah tidak mempunyai keturunan, Allah tidak mempunyai orangtua.

Bukankah kita sering membaca satu surat dalam Al-Qur’an, bahkan dijadikan wirid dalam berbagai kesempatan: Qul Huwallohu Ahad: katakanlah Allah itu Maha Esa, Allohusshomad: Allah tempat bergantung, Lam yalid walam yuulad: tidak beranak dan tidak diperanakan, Wa Lam Yakun Lahu Kufuwan Ahad: dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. Saya berkeyakinan ayat ini paling sering dibaca oleh kaum muslimin, bahkan paling banyak dihafal setelah surat Al-Fatihah. Namun sayang seribu kali sayang, ketika memasuki bulan Desember, semakin ke ujung bulannya semakin luntur pemahaman dan komitmen umat terhadap ayat ini. Mereka ikut-ikutan memeriahkan, merayakan dan saling menyampaikan ucapan selamat: “selamat natal”: selamat atas kelahiran anak Allah. Astaghfirullah...

Laqod ji’tum syai’an idda: Sungguh kalian telah membawa sesuatu yang sangat munkar. Kalimat itu tidak disukai oleh Allah Swt, bahkan juga tidak disukai oleh makhluk-makhluk-Nya: baik langit, bumi, lautan atau gunung-gunung; tidak ridho mereka ketika Tuhan mereka dikatakan punya anak. Oleh karenanya kita jangan heran jika kemudian langit, bumi, dan gunung-gunung itu melakukan protes dengan caranya masing-masing.

Kita lihat, Takaadus samaawaatu yatafathorna minhu wa tansyaqqul ardhu wa takhirul jibaalu hadda: hampir-hampir langit pecah, bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh karena ucapan itu; Ucapan yang mengatakan Allah punya anak. Langit, bumi, dan gunung-gunung tidak ridho mendengar ucapan seperti itu, dan mereka bersedia mengekspresikan ketidakridhoannya itu bahkan meski dengan menghancurkan tubuhnya sendiri. 
Bagaimana dengan kita? 

* * *

Dulu, jauh sebelum kita dilahirkan dan jauh sebelum Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus, ada seorang penguasa yang zalim. Diingatkan dengan kitab suci tak mau, diingatkan dengan lisan nabinya tak mau, dengan sombong dan angkuh dia mengatakan “Ana robbukumul a’la”: Akulah tuhan kalian yang paling tinggi. Siapa pemimpin yang model semacam ini? Namanya adalah Firaun. Dia mengatakan “Aku adalah tuhan yang paling tinggi”. Dia punya mulut tak dijaga, dia punya lisan tidak diatur kalimatnya.

Kita tahu bagaimana kesudahan Firaun. Allah tenggelamkan ia di laut merah. Bahkan dalam salah satu literatur sejarah disebutkan bahwa mulut Firaun itu sampai disumpal oleh malaikat dengan lumpur laut merah. Disumpal mulutnya. Kenapa? Karena mulutnya kurang ajar, mulutnya tak tahu diri, mulutnya asal bunyi.

Semoga itu bukan mulut kita.

Baca Juga [ Senggang ]