Mantan Calon Presiden Ini Luncurkan Buku "Anak Tentara Melawan Orba"

Jumat, 28 Agustus 2015 09:43 WIB

sumber: historia.id

Jakarta -  Judilherry Justam, mantan aktivis Malari dan Perintis Petisi 50, Kamis (27/8) siang, meluncurkan buku biografinya berjudul Anak Tentara Melawan Orba.

Acara peluncuran buku tersebut juga dihadiri oleh beberapa tokoh seperti Hariman Siregar, Rahman Tolleng, Bambang Sulistomo, Marsilam Simanjuntak dan Jumhur Hidayat. Tampil sebagai pembahas biografi adalah Rahman Tolleng dan sejarahwan Hilmar Farid.

Judil lahir di Bukittinggi pada 27 September 1948. Ayahnya seorang anggota TNI asal Kayu Tanam, Bukittinggi. Judil dibesarkan di sekolah Katolik. Semasa mahasiswa, ia aktif mengikuti organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dia juga dikenal sebagai perintis gerakan Petisi 50 bersama sejumlah tokoh, seperti Chris Siner Key Timu yang baru saja meninggal dunia pada 4 Mei 2015 lalu.

Menurut Rahman Tolleng, Judil adalah tokoh mahasiswa Universitas Indonesia yang tak pernah kenal lelah melawan rezim Orde Baru. Ia pernah merasakan hotel prodeo (penjara) karena melawan pemerintahan Orde Baru. Judil adalah satu-satunya yang berani mendatangi MPR untuk mendaftarkan diri secara formal sebagai calon presiden pada tahun 1978.

"Buku Anak Tentara Melawan Orba ini bukan hanya mengisahkan perjalanan hidup seorang anak tentara, yang kemudian secara konsisten melawan rezim penguasa militer Orde Baru, tetapi juga gambaran bagaimana suasana politik yang mencekam pada era itu. Judil sangat konsisten dalam perjuangannya. Tidak seperti aktivis lain yang hilang idealisme dan konsistensinya seturut perubahan umur dan kepentingan. Ciri itu yang tidak dimiliki aktivis kebanyakan," kata Rahman

Judilherry merupakan aktivis Universitas Indonesia yang mengajukan diri sebagai calon Presiden ke MPR menjelang pemilu tahun 1978 bersama rekannya Armein Daulay. Dalam buku biografinya, Judilherry menceritakan bahwa keseriusannya menjadi calon Presiden melawan Soeharto dibuktikannya dengan menemui fraksi PPP dan PDI di MPR sebagai lembaga tertinggi negara yang berwenang memilih presiden dan wakil presiden.

Pencalonan Judil sebagai presiden tentu mengundang perhatian aparat keamanan. Dalam suasana politik yang serba sentralistik, munculnya calon presiden lain selain Soeharto bukan sebuah kelaziman. Puncaknya adalah penangkapan Judil, saat dia membagi-bagikan materi programnya sebagai calon presiden di MPR. Ternyata polisi sudah menguntit dan mengawasinya.

Judil dan Armein digelandang ke kantor Polda Metro Jaya. Diinterogasi tentang apa motif pencalonannya sebagai presiden. Usai ditahan di Polda, pasangan calon presiden dan wakil presiden itu dibawa ke Kodam Jaya. Kembali diinterogasi, ditahan selama berhari-hari. Dipaksa mengaku apa motivasinya menjadi presiden dan siapa yang ada di belakangnya.



Baca Juga [ Senggang ]