Kejujuran Modal Seorang Penulis: Refleksi Atas Novel Gerson Poyk dan Puisi Sahadewa

Sabtu, 29 Agustus 2015 19:33 WIB

Gerson Poyk

Jakarta - Kejujuran adalah modal utama buat seorang penulis. Karya sastra novel atau puisi yang ditulis dengan penuh kejujuran, tidak bersifat agitatif atau provokatif, berpeluang menjadi karya sastra yang baik karena kaya dengan bahan perenungan.

Demikian seutas benang merah yang dapat direntang dari dua pembicara, pengamat sastra Free Hearty (Bundo Free) dan penulis Putu Fajar Arcana, ketika mengulas novel biografi Nostalgia Flobamora karya Gerson Poyk dan buku kumpulan puisi Suara Angin Timur (69 Puisi Rumah Dedari) karya dr Sahadewa, di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, beberapa waktu lalu.

Menurut Free Hearty, yang mengupas novel Nostalgia Flobamora, novel biografi karya Gerson Poyk yang berlatar sosial dan budaya Nusa Tenggara Timur, ini banyak menuturkan pengalaman yang boleh jadi juga menjadi pengalaman banyak orang, seperti sedih dan kecewa. 

"Tapi kelebihan Gerson Poyk mampu menggambarkannya dengan tidak agitatif, tidak provokatif. Style of languagenya luar biasa. Beberapa kalimat yang ditulisnya membuat kita merenung," katanya.

Free Hearty menambahkan, bisa saja seseorang menuliskan biografi atau autobiografi sebagai pencitraan. Misalnya, seorang pengusaha atau politisi yang menuliskan biografi masa lalunya . Namun penulisan ini bukan berdasarkan apa yang dialaminya namun sebagaimana yang dia kehendaki. Tujuannya adalah membentuk citra tertentu untuk merebut popularitas demi melipatgandakan kekayaannya dan melanggengkan kekuasaannya.

Dengan mengutip sebuah teori, Free Hearty mengatakan bahwa seorang yang terbenam dalam nostalgia biasanya adalah seseorang yang kecewa pada kehidupannya di masa sekarang. Orang tipe ini terbenam dalam nostalgia hanya dengan menceritakan kesuksesannya di masa lalu.

"Tapi hal ini tidak saya ketemukan dalam karya Gerson Poyk," ulasnya.

Menurut Free Hearty, membaca Nostalgia Flobamora adalah membaca patahan-patahan kenangan seorang Gerson. Dari cara penulisannya, Gerson lebih banyak me-recall, bukan mer-rocognition. Lebih mengenang kembali ketimbang mengenal kembali.

"Mengenang masa lalu itu tidak mudah. Apalagi menuliskannya. Saya pikir orang yang sudah berusia di atas 60 tahun akan kesulitan. Karena yang akan muncul adalah potongan-potongan kenangan. Itu saya ketemukan dalam tulisan Gerson," kata Free Hearty tentang karya pria berusia 84 tahun itu.

Dia menilai novel Gerson ini berbeda dengan novel-novel sebelumnya. Pola penulisan berdasarakan rumus eksposisi-konflik-klimaks tidak diketemukan di sini. Dicontohkannya, pada bagian awal Gerson membuka novelnya dengan kalimat: "Buku kenangan masa kecilku ini diulis untuk memperingati seekor anjing piaraanku."

 Sebagai sebuah novel, ulas Free, kita tentu ingin tahu bagaimana nasib anjing ini di bagian berikutnya. Namun, jangan kecewa, di dalam plot, struktur ceria, tidak ada kelanjutan kisah anjing itu.

Oleh sebab itu Free Hearty menyebut novel ini adalah sebuah mozaik kenangan masa lalu berjarak puluhan tahun, yang sangat mungkin dimaknai secara berbeda di saat mengalaminya dulu dengan ketika menuliskannya sekarang.

Novel biografi ini dinilai Free Hearty tidak bersifat agitatif dan provokatif, tapi menjelaskan bahwa ada hal-hal atau fenomena tertentu yang dialami penulisnya. Gerson menuliskannya dengan paradok-paradok yang membuat pembaca berfikir jauh. Gerson berhasil mengungkapkan pengalaman khas dan unik di masa kecil dan memaknainya kembali sehingga melahirkan kesadaran-kesadaran lain.

Soal menjadikan pengalaman sebagai inspirasi sebuah novel, menurut Free Hearty, tetap akan menarik sejauh pengalaman itu bersifat universal dan menggapai pemikiran banyak orang secara universal juga. Karena, karya yang menarik atau mengena adalah ketika karya itu difahami semakin banyak orang.

"Tapi kalau karya itu hanya tertangkap oleh satu-dua orang saja, artinya dia kehilangan pembaca setianya," pungkas Free Hearty seraya menyarankan agar para penulis muda membaca novel ini sebagai bahan pembelajaran yang menarik.

Dimulai dengan kejujuran

Sementara itu, berbicara peran penyair dari konteks kebudayaan dan sosial, penulis Putu Fajar Arcana yang juga wartawan kebudayaan Kompas, menilai puisi-puisi yang ditulis dengan kejujuran tinggi cenderung menjadi puisi yang bagus dari sisi irama, diksi, dan kemungkinan-kemungkinan baru yang muncul.

"Artinya puisi harus dimulai dari kejujuran. Dia tidak penah berhasil kalau dimulai dari pikiran. Buktinya, ketika Anda marah pada seseorang lalu mencoba menulis puisi, maka pusinya akan penuh makian. Menurut saya, kalau sudah memaki, bukan puisi. Karena puisi tugasnya adalah memberikan kedamaian dan pencerahan hati," papar Arcana.

Dalam pandangan Arcana, tujuan paling praktis menulis puisi adalah mempebaiki Bahasa. Oleh karena itu tugas seorang penyair itu berat, yaitu mengembalikan bahasa Indonesia yang telah dirusak oleh para politisi dan pengacara untuk tujuan praktis.

Jadi, tegas Arcana, menulis puisi tidak hanya sekadar klangenan, romantisme, atau ingin terkenal. Dan tidak sekadar eksis di media sosial atau tidak sekadar narsis. Kalau itu tujuan penyair, yakinlah karya bertendensi demikian tidak akan pernah masuk Kompas. Apalagi kalau puisi itu dimulai dengan kebencian.

"Puisi harus dimulai dengan kejujuran, keikhlasan, dan ideologis, yaitu mengembalikan kata yang sudah terlanjur rusak," ujarnya.

Menurut Arcana, menjadi penyair itu berat. Jangan coba-coba memasuki dunia ini kalau tidak siap betul secara mental dan material, arena ini adalah dunia spiritual dan dibutuhkan kesungguhan.

"Tapi tak masalah kalau ada penyair yang berharap materi seperti honor sebagai imbalan menulisnya," tambahnya buru-buru.

Arcana menilai ada beberapa puisi karya Sahadewa yang kuat memberi pesan penting karena mencuatkan kejujurannya berdasar tema keseharian. Satu diantaranya puisi berjudul Ibu yang menggambarkan peran seorang ibu yang disibukkan oleh upacara dan pekerjaan domsetik lainnya.

Kesan kejujuran ini sirna ketika Sahadewa menulis puisi-puisi soal-soal korupsi atau tentang Jakarta. Dia selalu memosisikan Jakarta sebagai kota yang seram dan tidak bersahabat karena kemacetan dan lainnya. Jakarta digambarkan menyebalkan dan suram.

"Ini mudah ditemukan dalam puisi-puisi Sabahadewa. Tidak ada romantisme. Yang ada adalah ungkapan menyudutkan," ujar Arcana. []HS


Baca Juga [ Senggang ]