Hikmah Jumat

Kisah Seorang Gubernur

Jumat, 27 Januari 2017 11:16 WIB

Ilustrasi

Oleh: Didin Rohaedin

Ini adalah kisah tentang seorang gubernur. Gubernur bukan sembarang gubernur. Gubernur yang lain daripada yang lain. Dia adalah seorang gubernur yang istimewa, demikian istimewanya sampai-sampai saya merasa perlu menuliskan kisahnya dalam kolom ini, agar generasi yang akan datang tahu bahwa pernah ada dalam sejarah umat manusia ini, seorang gubernur yang sangat kuat dan berkuasa, yang sangat gagah dan perkasa, mengalahkan kekuatan dan keperkasaan gubernur-gubernur yang lain, bahkan juga nyaris merontokkan kegagahan dan keperkaasaan penguasa negeri yang sesungguhnya. Jabatannya hanya gubernur, tapi para penguasa di negeri itu tak ada yang berani mengambil tindakan apapun terhadapnya.

Pada masa pemerintahannya, memang banyak pembangunan fisik di provinsinya: kantor-kantor, fasilitas umum dan kesehatan, jembatan dan bendungan, dan lain sebagainya. Tapi hal itu harus dibayar dengan harga mahal; hilangnya demokrasi dan kebebasan bersuara rakyatnya. Dia memerintah dengan otoriter; tak boleh ada tanya, masukan, nasehat, kritik, dan oposisi. Para ulama diburu, para pengkritik dibungkam mulutnya dengan tuduhan makar dan separatis.

Anda tahu siapa gubernur itu? Ya, dia sangat familiar belakangan ini. namanya Al Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqofi.

Al Hajjaj adalah salah seorang gubernur pada masa pemerintahan Daulah Bani Umayyah. Bagaimana dia bisa jadi gubernur dimulai dari kondisi Khilafah Bani Umayyah yang mengalami goncangan disintegrasi setelah wafatnya Yazid bin Mu’awiyyah. Banyak wilayah yang melepaskan diri, banyak tokoh yang mendaulat diri sebagai khalifah, di antaranya Abdullah bin Zubair di Mekkah. Saat itu nyaris hanya Yordania saja yang memberikan loyalitas penuh kepada kekhilafahan Bani Umayyah. Marwan bin Hakam sebagai pengganti Yazid bin Muawiyah hanya mampu mengamankan Mesir dari pengaruh Abdullah bin Zubair.

Kemudian diangkatlah Abdul Malik bin Marwan sebagai pewaris tahta. Untuk membereskan masalah dengan Abdullah bin Zubair, Abdul Malik melirik Hajjaj bin Yusuf karena Hajjaj dikenal sebagai orang yang keras, memiliki karakter kepemimpinan yang kuat, dan pantang menyerah. Kekuatan Abdullah bin Zubair pun bisa didesak sehingga kekuasaannya hanya terbatas di wilayah Hijaz. Akhirnya Hajjaj berhasil mengepung Kota Mekah yang menjadi benteng terakhir Abdullah bin Zubair.

Hajjaj menggempur kota suci itu dengan tembakan-tembakan manjaniq, sampai-sampai sebagian dari Ka’bah roboh tertimpa peluru-peluru manjaniq pasukan Hajjaj. Hajjaj benar-benar tidak peduli dengan kehormatan kota yang mulia itu. Pengepungan itu akhirnya menewaskan Abdullah bin Zubair dan berakhirlah masa kekuasaannya. Umat Islam kembali lagi bersatu di bawah satu kepemimpinan, kepemimpinan Bani Umayyah dengan khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Sebagai penghargaan untuk keberhasilan Hajjaj, khalifah melimpahkan kekuasaan Hijaz di tangan Hajjaj bin Yusuf. Dengan demikian kekuasaan Mekah, Madinah, dan Thaif berada di tangan gubernur bertangan besi yang ditakuti. Kemudian kekuasaan Hajjaj ditambah lagi dengan wilayah Yaman dan Yamamah.

Setelah Basyar bin Marwan –saudara Khalifah Abdul Malik- wafat, khalifah menunjuk Hajjaj bin Yusuf menjadi gubernur Irak. Irak adalah sebuah wilayah yang luas, di sana Hajjaj ibn Yusuf menjalankan roda pemerintahan dengan otoritarian dan tak segan-segan menumpahkan darah siapapun yang berani mengkritik apalagi melawan kebijakannya. Ditulis Ibn Al Atsir dalam Al Kamil; jumlah yang dibunuhnya mencapai 120.000 orang; belum termasuk 80.000 yang mati kelaparan dalam penjara. Semua karena pemaksaannya agar masyarakat tunduk pada kuasa Daulah 'Umayyah.

Kali ini mohon izinkan saya bercerita tentang Sa'id ibn Jubair; si 'alim murid kesayangan Ibn ‘Abbas yang menjadi penutup kejahatan Al Hajjaj. Setelah beliau ditangkap, Al Hajjaj bertanya;

"Siapa namamu?"

Beliau menjawab; "Sa'id ibn Jubair (orang bahagia; putra orang jaya)". 

"Tidak", sergah Al Hajjaj, "Namamu Saqi ibn Kusair (orang celaka anak orang hancur)!"

"Ibuku lebih tahu siapa namaku!", timpal Sa'id.

Kemudian Al Hajjaj bertanya tentang Rasulullah Saw dan Khulafaur Rasyidin. Dia berharap Sa'id menjelekkan 'Ali, tapi beliau muliakan semua. Ditanya tentang siapa Khalifah Bani 'Umayyah yang terbaik; jawabnya; "Yang paling diridhai Rabbnya!" "Siapa itu?", kejar Al Hajjaj. “Ilmu tentang itu di sisi Allah" ; jawab Sa’id mengutip Quran.

"Kalau tentang aku?", tanya Al Hajjaj.

"Kau lebih tahu tentang dirimu".

"Aku ingin tahu pendapatmu!", desak Al Hajjaj.

"Itu akan menyedihkanmu dan menyakitkan hatimu", tukas Sa'id.

"Katakan!", geramnya.

"Setahuku, kau adalah orang yang telah menyelisihi Kitabullah. Kau lakukan hal yang kau harap berwibawa karenanya; tapi ia menghinakan dan menjatuhkanmu ke neraka!"

"Demi Allah aku akan membunuhmu!”, kata Al Hajjaj.

"Dengan itu kauhancurkan duniaku & kuhancurkan akhiratmu", sahut Sa'id tersenyum.

"Dengan cara apa kau mau dibunuh?", sergah Al Hajjaj.

"Pilihlah untukmu; dengan cara yang sama kelak Allah membalasmu!”, jawab Sa’id.

"Apa kau mau kuampuni?", tanya Al Hajjaj.

"Sesungguhnya ampunan hanya dari Allah; kau tak punya dan tak berhak atasnya!", jawab Sa’id.

"Prajurit! Siapkan pedang dan alas!", perintah Al Hajjaj. Maka Sa’id mensenyumkan tawa.

"Apa yang membuatmu tertawa?", tanya Al Hajjaj.

"Aku takjub atas kelancanganmu kepada Allah dan santun-lembutnya Allah padamu", kata Sa’id.

"Prajurit, penggal dia!", teriak Al Hajjaj.

Sa’id menghadap kiblat dan membaca Surah Al-An’am ayat 79: "Kuhadapkan wajahku pada Yang Mencipta langit & bumi.."

"Palingkan dia!", ujar Al Hajjaj.

Sa’id pun lalu membaca Surah Al-Baqarah ayat 115: "Ke manapun kamu menghadap; di sanalah wajah Allah.:

"Telungkupkan dia ke tanah!", gusar Al Hajjaj.

Maka Sa’id kemudian membaca Surah Thahaa ayat 55: "Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu...".

"Sembelih dia", kata Al Hajjaj. "Sungguh, aku belum pernah menjumpai orang yang suka berdalih dengan ayat-ayat Allah seperti dia!".

Maka Sa’id berdoa terakhir kali... "Ya Allah; jangan kuasakan dia atas seorangpun sesudah diriku!" Lalu beliau dibunuh.

Lima belas hari kemudian, Al Hajjaj mulai demam. Sakit itu mengantarnya pada kematian. Dia terlelap sesaat lalu bangun berulang kali dalam ketakutan; "Sa'id ibn Jubair mencekikku!". Punggawanya mengadu pada Hasan Al Bashri, memohonnya mendoakan sang majikan. Al Hasan berkata, "Sudah kukatakan padanya, jangan menzhalimi para 'Ulama!". Jelang sakaratul maut, doa-harapnya menakjubkan; "Ya Allah, orang-orang mengira Kau takkan mengampuniku. Sungguh buruk persangkaan mereka pada-Mu!". Al Hajjaj mati setelah 40 hari merasakan dahsyatnya sakaratul maut; Umar ibn Abdil Aziz dan Hasan Al Bashri sujud syukur berulang kali.

Kelak Umar ibn Abdil Aziz dan beberapa ulama lain bermimpi. Bahwa Al Hajjaj dibunuh Allah sebanyak pembunuhan yang dia lakukan; kecuali atas Sa'id ibn Jubair; Allah membalasnya dengan 70 kali. Benar; sungguh benar; "Hari keadilan bagi si zhalim; lebih berat daripada hari kezhaliman bagi mereka yang teraniaya." Wallahu A’lam.

* * *

Ini adalah kisah yang terjadi 13 abad yang lampau. Saat itu, Anas bin Malik, salah seorang sahabat Nabi Saw yang masih hidup pada zaman itu ditanya oleh orang-orang tentang kezaliman dan kebiadaban Al Hajjaj. Beliau menasehati mereka agar bersabar, dan menukil sabda Nabi Saw bahwa "Tidak akan datang suatu zaman, kecuali zaman itu lebih buruk daripada zaman sebelumnya".

Anas bin Malik menyuruh mereka bersabar. Karena sejahat-jahatnya Gubernur Al Hajjaj, kelak akan datang lagi gubernur yang lebih jahat darinya. Selicik-licik Al Hajjaj, lebih licik lagi gubernur-gubernur yang datang sesudahnya.

Baca Juga [ Senggang ]