Hikmah Jumat

Daging Ulama Itu Beracun, Hok!

Jumat, 10 Februari 2017 10:26 WIB

Oleh: Didin Rohaedin

Ada beberapa sebab kenapa kita menghormati seseorang dan menaruh rasa segan kepadanya.  Pertama, dia orang berpangkat. Ada kecenderungan naluriah dalam diri kita untuk hormat dan menundukkan kepala di hadapan orang yang memiliki pangkat atau jabatan tinggi. Seorang karyawan menghormati bosnya, seorang bawahan menghormati atasannya, seorang camat menghormati bupatinya, dan seterusnya. Kedua, karena dia orang kaya. Banyak orang menaruh rasa hormat kepada orang kaya, terutama dari mereka yang nilai-nilai materi duniawinya berada di bawah orang-orang kaya itu. Seorang fakir miskin tak segan mencium tangan seseorang yang menyantuninya dengan sehelai amplop berisi Rp, 50.000,-,. Ketiga, ada orang yang kita hormati karena ilmu dan takwanya. Inilah rasa hormat yang ditunjukkan seorang murid kepada gurunya, seorang santri kepada kiainya, umat kepada ulamanya.

Faktor pertama dan kedua sifatnya tidak langgeng dan permanen. Orang berpangkat tak kan dihormati selamanya. Hanya ketika pangkat dan jabatan itu ada dalam genggaman tangannya, orang menaruh rasa hormat. Kelak, ketika ia lengser atau dilengserkan, perlahan-lahan rasa hormat itu akan berkurang bahkan hilang. Pun demikian dengan kekayaan. Ketika ia jatuh miskin, menjauhlah semua orang yang dulu biasa menciumi tangannya itu.

Tapi hal itu tidak terjadi pada poin yang ketiga. Ulama boleh saja jatuh miskin dan tak berpangkat, tapi rasa hormat dan ta’dzim itu tak kan pernah berkurang sedikitpun.

Konsekuensi dari hilangnya rasa hormat kepada ketiga jenis manusia itupun berbeda. Bila ada seorang karyawan yang mencak-mencak di hadapan bosnya, menghina kehormatan bosnya; paling banter dia akan dipecat. Kalau ada orang miskin yang petantang-petenteng di depan orang kaya, merendah-rendahkan martabat orang kaya, mengancam-ancam orang kaya; paling hebat dia tidak lagi mendapat jatah santunan. Apapun itu, dua-duanya hanya sekedar kehilangan dunia. Sekedar itulah harga daging orang berpangkat. Cuma sebatas itulah rasa daging orang kaya. Hambar, pahitnya tak seberapa.

Tapi tak hanya itu kalau yang terjadi adalah hilangnya rasa hormat kepada ulama. Orang bukan saja berpotensi kehilangan dunianya, tapi juga berpeluang besar kehilangan akhiratnya. Itulah marwahnya ulama. Itulah dagingnya ulama, beracun!

Maka, siapapun saja yang berani-berani menodai kehormatan para ulama, merendah-rendahkan martabat dan marwah ulama, memfitnah dan mengancam-ancam ulama; siap-siaplah menanti datangnya hari kehancuran hidupnya. Bersiap siagalah dengan konsekuensi yang tak diragukan lagi kepastiannya: Ambrolnya harapan, bangkrutnya duniawi, pupusnya ambisi. Kata anak muda zaman sekarang: “kelar hidup lu!”.

Inilah yang sedang terjadi di negara kita. Para pejabat negara dan pemangku kekuasaan tengah mempertontonkan adegan-adegan sok jago, sok kuat, sok hebat dengan “memakan dagingnya para ulama”. Tak tahu mereka, kalau dagingnya para ulama itu beracun.

Apa pasal? Kenapa para penguasa negeri ini demikian ambisius memberangus para ulama? Kenapa mereka demikian bernafsu menjatuhkan martabat para ulama? Kenapa mereka kian hari kian mencak-mencak di hadapan para ulama? Saudara kita di www.lemahireng.infomemberikan jawabannya:

Menguatnya peran ulama di tengah masyarakat pasca aksi 411 dan 212 tak pelak membuat berbagai kalangan yang kepentingannya terganggu kalang-kabut. Kini, muncul berbagai kriminalisasi terhadap para ulama yang merupakan tokoh di balik berbagai aksi yang menguatkan nilai keberislaman masyarakat itu.

Di Sintang, Kalimantan Barat, KH Tengku Zulkarnaen, Wakil Sekjen MUI Pusat, yang memenuhi undangan resmi Bupati Sintang, tiba-tiba dihadang oleh kelompok tertentu sambil mengacung-acungkan senjata tradisional di apron Bandara Sintang ketika hendak turun dari pesawat terbang.

KH Habib Rizieq Shihab terus-menerus dicari-cari kesalahannya. Beliau antara lain diminta untuk memenuhi panggilan Polda Jabar atas kasus yang diada-adakan. Saat pemeriksaan, terjadi kasus penyerangan FPI yang mengawal kehadiran Habib Rizieq Shihab oleh GMBI yang diduga kuat dihadirkan oleh Kapolda Jabar.

Jika bukan kriminalisasi terhadap ulama, lalu bagaimana bisa kelompok yang melakukan tindakan anarkis itu masuk apron bandara bahkan bawa senjata? Itu hanya mungkin terjadi jika ada pembiaran oleh polisi. Polisi tahu bahwa Ustadz Tengku itu akan datang jam itu dengan pesawat tersebut. Alhasil, di sini yang disebut gabungan antara kekuasaan legal, intelijen dan akses kepada kelompok-kelompok anarkis sangat nyata.

Lalu terkait kasus penyerangan FPI oleh GMBI di Bandung, bagaimana juga kekerasan itu bisa terjadi tak jauh dari Mapolda Jabar. Yang lebih mengherankan adalah respon setelah itu. Alih-alih korban dilindungi, justru malah dipersalahkan. Sebaliknya, pihak yang melakukan kekerasan malah dilindungi dan dijenguk Polisi. Lalu disebarkan melalui akun resmi Humas Polri bahwa GMBI adalah korban dari anarkisme FPI. Padahal faktanya, FPI yang diserang GMBI.

Jubir HTI Ustadz Ismail Yusanto mengkhawatirkan bahwa semua itu bisa terjadi karena ada kolaborasi kekuatan legal, intelijen dan anarkis. Ia mempertanyakan, bagaimana negara ini memiliki aparat kepolisian yang begini rupa. Ini sangat berbahaya karena akan memperuncing pertentangan antarkelompok dan konflik horisontal. Menurut Ismail, ini merupakan aksi balas dendam akibat terganggunya kepentingan asing, aseng dan asong pasca penistaan agama yang dilakukan Ahok. Pasalnya, ini semua terjadi setelah Aksi 212. Aksi 212 itu kan aksi super damai. Semestinya semua orang bergembira. Namun, nyatanya ada yang berduka dan geram karena kok damai sehingga mereka tidak punya alasan untuk memojokkan umat Islam, khususnya para ulamanya.

Di belakang Ahok ini ada kepentingan politik besar yang terkait dan berkelindan dengan kepentingan bisnis. Bisnis tersebut terkait dengan pejabat. Di situ ada korupsi dan kolusi sebagaimana tampak pada kasus Reklamasi dan Sumber Waras yang kasusnya terus diulur-ulur oleh KPK. Namun, ketika Ahok menista agama, aparat sudah tidak bisa berkelit lagi karena umat Islam marah. Puncaknya terjadi Aksi 212. Jadi tampak sekali, dan sangat menyedihkan, aparat hukum menjadi alat politik jahat dari kelompok tertentu.

* * *

Terakhir, Ahok dan tim pengacaranya berulah lagi. Di persidangan ke-8 kasus penistaan agama yang menjeratnya, dengan congkak dan pongah, dia penasaran.

Baca Juga [ Senggang ]