Tidak Ada Kawan dan Lawan Abadi

Senin, 20 Februari 2017 13:54 WIB

(MedanbisnisBerhisarLubis)

Topik kita ini terbukti dalam Pilkada DKI Jakarta. Meskipun sama-sama pendukung pemerintahan Jokowi-JK, tetapi calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) yang diusung berbeda.
PDIP, Nasdem, Hanura dan Golkar mencalonkan A Hok-Djarot Syaiful Hidayat sebagai Cagub DKI Jakarta. Tapi koalisi mereka di kabinet, yakni PAN, PPP dan PKB malah mencalonkan Agus Harimurti-Sylviana Murni.

Tak heran, jika ada elit PDIP yang mewacanakan agar PPP, PAN dan PKB mengalihkan dukungannya kepada A Hok di ronde kedua Pilkada DKI Jakarta. Alasannya, seyogianya jika sudah berkoalisi di pemerintahan, maka cagub dan cawagubnya juga tidak berbeda. Apalagi sama-sama sudah dapat kursi menteri di kabinet.Eh, ternyata fenomena Pilkada DKI Jakarta itu juga terjadi di Pilkada serempak 2017 di Aceh. PDIP malah berangkulan dengan Partai Demokrat dan PKB mengusung Irwandi Yusuf. Sebaliknya, Demokrat, Gerindra dan PKS, yang tak ikut dalam koalisi Jokowi-JK, malah bergabung dengan Golkar, Hanura, PAN dan PKB mencalonkan Wahidin Halim (WH)-Andika Hazrumy di Pilkada Banten. Sementara PDIP, Nasdem join dengan PPP mengusung Rano Karno-Embay Mulya Syarif.

Bahkan, dalam Pilkada Tapanuli Tengah, Partai Golkar, PDI-P dan Nasdem bergandengan tangan dengan PAN dan Demokrat mendukung duet Amin Pardomuan Napitupulu-Ramses Hutagalung (AMIRA). Lalu, duet Bakhtiar Ahmad Sibarani-Darwin Sitompul (BADAR) didukung oleh Partai Hanura, PKS, PPP dan PBB.

He-he, malah di Tebingtinggi, Golkar, Gerindra, PKPI, Hanura, Nasdem, Demokrat, PDI-P, PPP dan PKB kompak bersatu mendukung duet tunggal, Umar Zunaidi Hasibuan dan H Oki Doni Siregar.Setiap parpol itu memang mempunyai kepentingan yang berbeda. Mungkin, karena mereka mendengar suara konstituennya. Boleh jadi juga sebagai strategi menghadapi Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden pada 2019. Pendeknya, tidak ada kawan dan lawan yang abadi sudah menjadi adat politik.

Tapi saya kira, lebih strategis jika para elit parpol berkoalisi dengan komunitas masyarakat. Sebab, sekarang adalah eranya demokrasi partisipatoris.

Dan memang rakyatlah yang memilih. Bukan parpol. Buat apa membangun koalisi gemuk dengan parpol,tetapi tidak menjamin kemenangan dalam Pilkada? (Bersihar Lubis)

Baca Juga [ Opini ]