Hikmah Jumat

Semoga Hati Kita Ini Naqiyyah, Bukan Ajadib, Apalagi Qii'an!

Jumat, 10 Maret 2017 09:34 WIB

Oleh: Didin Rohaedin

Tidak ada manusia yang tidak butuh hujan. Semuanya membutuhkan hujan. Walaupun tidak semuanya merasa senang ketika turun hujan. Sebagian orang bahkan menyesalkan turunnya hujan. Bukan karena ia tak butuh lagi hujan, tapi karena pada waktu itu, hujan turun tidak sesuai dengan aktifitas duniawinya.

Pun demikian Alqur'an. Tidak ada manusia yang tidak butuh Alqur'an. Semuanya membutuhkan Alquran. Walaupun tidak semuanya merasa senang ketika dibacakan Al-Qur'an. Sebagian orang bahkan menyesalkan dibacakannya Al-Qur'an. Bukan karena ia tak butuh lagi Al-Qur'an. Tapi karena pada waktu itu, ayat Al-Qur'an yang dibacakan tidak sesuai dengan selera nafsunya.

Terhadap hujan Alqur'an ini, respon manusia ada tiga macam:

Pertama, ada orang yang ketika dibacakan Alquran, diberi penjelasan tentang dalil-dalil agama, disirami cahaya petunjuk robbani, dia menerimanya dengan sepenuh hati. Dia amalkan ilmu yang telah ia ketahui, dan berusaha mengajarkannya kembali kepada mereka yang belum tahu. Maka, ia mendapatkan manfaat dengan mengamalkan ilmunya dan orang lainpun memeroleh manfaat dengan pengajarannya.

Kedua, ada orang yang mendapatkan ilmu Alquran, ia banyak tahu tentang dalil-dalil agama, ia dipanggil orang sebagai ustadz dan ulama, ahli fiqih dan pakar tafsir, ahli suluk dan cendikiawan. Karena memang ia menguasai seluruhnya. Ia profesor di bidang itu semua. Lalu, ia ajarkan ilmu-ilmu itu kepada banyak orang. Orang banyak pun kemudian mendapatkan manfaat dari ilmu yang ia ajarkan itu. Tapi sayang, tapi sayang.... sayang tapi... ia sendiri tak memeroleh apa-apa. Why? Karena ia sendiri tak mau mengamalkan ilmunya. Tak sungguh-sungguh mengamalkan Alqurannya, tak pernah serius dengan hadis-hadisnya. Ilmunya itu hanya terang untuk orang lain, tapi gulita bagi dirinya sendiri. Golap.

Ketiga, ada orang yang ketika Alquran dibacakan, ketika ajaran agama disampaikan, ketika pesan-pesan langit dicurahkan; dia menutup mata hatinya, kedua mata dan telinganya. Semua keterangan agama itu ia lemparkan ke balik punggungnya, dianggapnya angin lalu belaka. Maka jangankan memberi manfaat untuk orang lain, bahkan untuk dirinya sendiri saja tidak. Orang seperti ini tak pernah peduli dengan agamanya, tak ambil pusing dengan akhiratnya. Yang penting hidupnya sonang, monang, konyang, tonaaaaang....

Demikian dulu Nabi Saw mengumpamakan wahyu Alquran ini seperti hujan dan hati manusia yang menerimanya seperti tanah. Hujan turun menimpa semua bagian bumi, membasahi seluruh permukaan tanah: Tanah gersang kena. Tanah subur kena. Tanah rawa kena. Tanah gambut kena. Semuanya kena. Hujan turun menyapa semua bagian tanah tanpa kecuali. Tanpa pilih kasih. Dataran tinggi dan dataran rendah, semuanya pernah disilaturrahimi hujan. Kenapa? Karena Allah yang menciptakan tanah dan menurunkan hujan tahu, semuanya butuh hujan.

Tapi apakah semua bagian tanah itu merespon positif atas hadirnya hujan? Jawabannya ya. Dan tidak.

Nabi Saw bersabda: "Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya seperti hujan lebat yang turun mengenai tanah. Diantara tanah itu ada "Naqiyyah", tanah subur yang dapat menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Dan di antaranya ada "Ajadib", tanah keras yang hanya menahan air (tergenang) sehingga dapat diminum oleh manusia, memberi minum hewan ternak dan untuk menyiram tanaman. Dan yang lain ada "Qiian", permukaan tanah yang tidak dapat menahan air dan juga tidak dapat menumbuhkan tanaman. Perumpamaan itu adalah seperti orang yang faham agama Allah dan dapat memanfa'atkannya, dan dia yang hanya mempelajarinya dan mengajarkannya, tanpa mau mengamalkan dan juga perumpamaan orang yang tidak dapat mengangkat derajatnya karena  sama sekali tidak menerima hidayah Allah yang dengannya  aku diutus". (HR. Al-Bukhari)

Maka semoga hati kita ini Naqiyyah, bukan Ajadib, apalagi Qii'an!

Baca Juga [ Senggang ]