Hikmah Jum'at

Stasiun Kereta Api

Jumat, 24 Maret 2017 09:15 WIB

Oleh: Didin Rohaedin


Kehidupan dunia ini, betapapun panjangnya, suatu hari nanti tentu akan berakhir. Harta benda yang dikumpulkan di dunia ini, betapapun banyaknya, pasti akan hilang. Dunia ini kita kumpulkan untuk kita tinggalkan, sedangkan akhirat kita kumpulkan untuk kita datangi. Akan tetapi, dalam hal ini, akal kita seringkali tertutup dengan tirai kelalaian. Kita kerap mengutamakan yang sementara dan melupakan yang kekal abadi. Ibarat seseorang yang terlena pada keindahan ruang tunggu di sebuah stasiun kereta api, padahal ia hanya sementara berada di tempat itu sampai kereta tiba, dan ia akan menaikinya.

Beruntunglah orang yang memanfaatkan waktu sedikit itu untuk mempersiapkan bekal perjalanannya, mengemas barang-barang yang akan dibawa dan menyelesaikan segala urusan yang akan dibutuhkan selama perjalanan dan di tempat tujuan nanti. Dan sungguh bodoh orang yang menghabiskan waktu sedikit itu dengan perbuatan yang sia-sia: berjalan-jalan di sekitar stasiun sehingga barang-barangnya dicuri orang, menyusun perabot-perabot, mengecat kursi tempat duduk, mengeluarkan uang banyak untuk mengganti lantai stasiun dengan batu pualam atau melakukan kebodohan lain seperti membeli lukisan untuk menghiasi ruangan yang akan ia tinggalkan ketika kereta api tiba.

Di stasiun itu, bermilyar-milyar manusia telah tertipu. Dulu, Qarun dihadirkan di muka bumi ini. Adik sepupu Nabi Musa As itu lama menghabiskan waktu untuk belajar agama sampai khatam Kitab Taurat, namun ia tertipu oleh harta benda dunia ini. Ia lupa bahwa ia adalah "lalaki langit lalanang jagat" manusia akhirat yang sedang berkelana di dunia, ia lupa Tauratnya, yang ia pikir setiap saat bagaimana besi bisa menjadi emas. Agama ditinggalkan demi harta, bahkan ia membenci orang-orang yang mengingatkannya akan negeri akhirat.

Fir'aun juga dihadirkan di dunia ini. Ia diberi kekuasaan dan jabatan, sampai hidup dan mati rakyatnya ada di tangannya. Ia tak pernah sakit pilek sekalipun, namun setelah Nabi Musa As mengajaknya untuk mengamalkan ajaran agama, dia mulai sakit jantung. Bahkan sejak Nabi Musa belum dilahirkan, Fir'aun sudah memerintahkan bala tentaranya untuk membunuh seluruh bayi laki-laki Bani Israil yang diramalkan akan meruntuhkan kerajaannya. Dia percaya dan meyakini yang ghaib, namun ia tertipu oleh kerajaannya. Dan ia pun dihinakan Allah Swt sampai bumi pun tak sudi menerima jasadnya.

Haman juga dihadirkan di muka bumi ini. Awalnya ia hanya rakyat kecil biasa, tetapi ia pandai menjilat, ia pandai melobi pejabat-pejabat istana sehingga diangkat menjadi perdana menteri Fir'aun. Ia seorang teknokrat hebat, namun ia tertipu oleh pangkat dan jabatannya. Ia sepakat dengan Fir'aun untuk memerangi Nabi Musa As dan pengikutnya.

Dunia ini adalah stasiun tua yang menjadi saksi datang dan perginya rombongan kafilah manusia dari jaman ke jaman. Ribuan gerbong telah mengangkut mereka ke suatu tempat yang telah ditentukan. Mereka menaikinya, suka atau terpaksa.

Kini, kita sedang berada di stasiun itu. Di sebuah ruangan besar yang dulu pernah disinggahi Qarun, Haman dan Fir'aun. Juga oleh Nabi Adam As, Nabi Musa As dan Nabi Muhammad Saw. Sekarang kita di sini, Menanti kedatangan kereta yang akan menjemput kita. Entah kapan. Tapi yang pasti, semakin lama ia semakin mendekat.

* * *

"Aku dan dunia ibarat orang dalam perjalanan menunggang kendaraan, lalu berteduh di bawah pohon untuk beristirahat sejenak dan setelah itu meninggalkannya". (HR. Ibnu Majah).

Baca Juga [ Senggang ]