Pilpres Iran Digelar, Warga Antre di TPS

Jumat, 19 Mei 2017 12:44 WIB

Pendukung Ebrahim Raisi (TIMA via REUTERS/File Photo)

LOGISNEWS CO JAKARTA - Warga Iran hari ini menggunakan hak suaranya untuk memilih presiden. Kandidat petahana Presiden Hassan Rouhani berhadapan dengan penantangnya, Ebrahim Raisi, yang beraliran garis keras. Antrean panjang terpantau di tempat-tempat pemungutan suara (TPS).

Seperti dilansir Reuters, Jumat (19/5/2017), tayangan televisi setempat menunjukkan antrean panjang di luar tempat-tempat pemungutan suara di beberapa kota Iran. Sekitar 56 juta orang dari total 80 juta penduduk Iran memiliki hak suara.

"Semua orang seharusnya memilih dalam pemilu yang penting ini ... memilih pada jam-jam awal," imbau Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, setelah menggunakan hak suaranya di Teheran. "Nasib negara ini ditentukan oleh rakyatnya," imbuh Khamenei.

Pemungutan suara akan diakhiri pukul 18.00 waktu setempat, meskipun seringkali masa pemungutan suara diperpanjang hingga malam hari. Penghitungan surat suara akan digelar Jumat (19/5) tengah malam dan hasil resminya diperkirakan akan diketahui dalam waktu 24 jam setelah pemungutan suara diakhiri. Selain memilih Presiden Iran, pemilu ini juga untuk memilih anggota Dewan Kota dan Dewan Desa setempat.Rouhani (68) dan Raisi (56) -- yang mantan hakim -- saling melempar tudingan korupsi dan kebrutalan dalam debat langsung di televisi setempat beberapa waktu lalu. Keduanya sama-sama membantah tudingan itu.

"Mulai dari Garda Revolusioner hingga para imam Salat Jumat, aliran garis keras, elite pemerintahan yang tidak terpilih, semua mendukung Raisi," tutur seorang mantan pejabat senior Iran kepada Reuters.

"Tapi ini keputusan yang berisiko. Ini mungkin bisa memicu aksi protes seperti yang terjadi tahun 2009, karena masyarakat yang berbeda jalan, menginginkan evolusi dalam elite pemerintahan, bersatu melawan Raisi," imbuhnya.Rohani telah memperingatkan Garda Revolusioner Iran, yang diyakini mendukung Raisi, untuk tidak mencampuri pemilu. Tahun 2009 lalu, Garda Revolusioner dan milisi Basij dicurigai merekayasa hasil pemilu demi menguntungkan Mahmoud Ahmadinejad, hingga memicu protes besar-besaran selama 8 bulan. Saat itu, puluhan orang tewas dan ratusan lainnya ditangkap.

Sekitar 350 ribu personel keamanan dikerahkan untuk mengawal jalannya pemilu.


Baca Juga [ Internasional ]