Pilkada Sumsel

Syahrial Bersaing Ketat dengan Mekki dan Dodi

Rabu, 06 September 2017 21:36 WIB

Hasik survei kandidat Pilgub Sumsel

LOGISNEWS, Pilgub Sumatra Selatan (Sumsel) baru akan digelar 2018 mendatang, namun tensi politik sudah memanas terutama setelah beberapa lembaga merilis langsung hasil surveinya ke publik  atau menyebar dan jadi viral di sosial media. Tren elektabilitas para bakal calon telah menjadi pembicaraan hangat di masyarakat.   Nama-nama yang diyakini akan ikut serta dalam kontestasi mulai saling mengukur kekuatan dan menawarkan diri ke partai-partai politik agar bisa diusung.

Pengamat politik yang juga Ketua Forum Pemerhati Pilkada, Agusta Surya Buana menilai beredarnya hasil survei beberapa lembaga di media massa dan media sosial merupakan hal yang tak bisa dihindari. Tentu saja bisa membawa dampak postif bagi pemilih untuk dapat membandingkan dan menguji sejauh mana kandidat yang disukainya memiliki peluang menang. Agusta menyatakan hasil survei yang diketahui publik sudah pasti menjadi pertaruhan bagi lembaga survei. Menurutnya kredibilitas suatu lembaga survei dan pengalaman lembaga itu mudah ditelusuri melalui internet.

Forum Pemerhati Pilkada Sumsel berhasil melakukan kompilasi hasil survei dan menerbitkannya ke publik. Agusta menyatakan sumber yang didapat lembaganya bisa dipertanggungjawabkan. "Data kita dapat dari koran, berita online, dari viral di whatsapp group dan dari informasi sumber yang bisa dipercaya. Ada juga yang didapat langsung melalui keberhadiran tim saat rilis survei dilakukan lembaga-lembaga itu," ujarnya.

Agusta menerangkan, rata-rata komparasi elektabiltas bakal calon Pilkada Sumsel 2018 dari delapan lembaga survei sejak Juni 2016 sampai Agustus 2017 menyebut, Herman Deru memperoleh 22,94 persen, Syahrial Oesman 13,89 persen, Ishak Mekki 13,68 persen, Dodi Rezza Alex 13,67 persen, Aswari Rivai 7,04 persen, Edi Santana Putra 3,89 persen dan terakhir Giri Kiemas 1,12 persen. "Dari delapan survei yang berhasil didapat datanya kemudian masing-masing kandidat dijumlah dan dibagi delapan, hasilnya adalah Herman Deru menempati posisi pertama dan Syahrial Oesman di posisi kedua," ujarnya.

Agusta menjelaskan metode penggabungan masing-masing raihan elektabilitas kemudian dibagi sejumlah lembaga yang merilis tentu bisa diperdebatkan namun hasilnya cukup masuk akal. "Itu jauh bisa diterima, ketimbang mendebatkan kenapa lembaga yang satu nilai elektabilitas satu calon amat tinggi sementara di waktu yang sama elektabilitasnya di survei lembaga lain terfragmentasi atau sejajar dalam arsir margin error," ujarnya.

Agusta menerangkan survei merupakan termometer politik, bukan hasil politik, ada banyak sekali bukti betapa hasil survei berbeda jauh dengan hasil pemungutan suara. Waktu penentuan untuk mengusung calon masih 5 bulan lagi atau bulan Januari, jadi sangat terbuka peluang nama-nama itu untuk diusung dan berkoalisi, hingga adu program di kampanye nanti," terangnya.

Dari tujuh nama yang dikaji lembaganya, Agusta menjelaskan peluang Herman untuk maju masih menghadapi tantangan besar berupa kendaraan politik. Bisa saja Ia tak dapat kendaraan jika dia gagal melobi partai politik, usaha keras dan mahal harus dilakukannya agar bisa diusung parpol sementara memakai jalur perseorangan juga terlambat. Jika ia gagal meyakinkan parpol maka persaingan antara aktivis partai akan terjadi amat sengit. Syahrial bersaing ketat melawan Mekki dan Dodi.

"Intinya saya ingin menegaskan, hasil SWOT menunjukan persaingan justru terjadi di level para ketua partai, sementara ini Syahrial unggul tipis dari Mekki, Dodi dan Aswari," pungkasnya. []

Baca Juga [ Nasional ]