Indahnya Pusuk Buhit, Kampung Halaman Suku Batak

Selasa, 08 September 2015 06:41 WIB

Pusuk Buhit di Kabupaten Samosir,Sumatera Utara

Keindahan alam Tano Batak, dengan lanscap utama Danau Toba dan perbukitannya telah terkenal ke manca negara. Ikon Sumatera Utara bahkan Indonesia yang gampang dikenali karena indah dan tersebar dimana-mana. Bekas letusan Gunung Toba Purba, yang meletus 70.000 tahun yang lalu ini, tidak pernah habis-habis dikagumi dan dipuji-puji oleh turis maupun sang seniman lokal.

Tak cukup seminggu untuk membahas semua keindahan itu, baik berupa keindahan alamnya, adat-istiadatnya, kegigihan para penduduknya menaklukkan alam yang keras, maupun kontradiksi watak mereka yang keras tetapi menciptakan seni yang lembut serta menyentuh hati.

Untuk itu kita coba mengiris sedikit saja alam Tano batak ini dengan mendatangi Pusuk Buhit yang konon katanya tempat asal muasal orang Batak.

Sulit menuliskan kalimat yang tepat untuk menggambarkan keindahan alamnya, mata serta indra kita yang lain seolah tersihir mengikuti begitu sempurnanya kampung halaman asal Suku Batak ini. Cekungan kawasan danau yang dipagari bukit yang berkemiringan 70-80 derajat membuat napas akan tertahan saat kenderaan kita melintasi jalannya yang menurun tajam saat ingin turun mencapai bibir danau.

Pohon pinus yang banyak tumbuh diselingi semak-semak yang terhampar sejauh mata memandang terlihat bagai permadani Persia berwarna kuning dan hijau cerah saat ditimpa semburat sinar matahari. Semakin ke pantai danau semakin hijau atau kuning di kelilingi hamparan padi di sawah yang subur.

Pusuk Buhit Asal Bangso Batak

Suku Batak yang menjadi bagian dari suku-suku di Indonesia, terbilang unik dan memiliki karakter pantang menyerah, mereka ada di seluruh pelosok Indonesia bahkan dunia. Bahkan di tengah Papua sana yang daerahnya sangat terpencilpun mereka ada, kalau di Indonesia hanya etnis Jawalah yang bisa menandingi penyebaran suku Batak ini.

Suku yang dikategorikan sebagai Batak adalah Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola dan Batak Mandailing. Mayoritas orang batak menganut agama Kristen dan Islam. Tetapi ada juga yang menganut agama Malim dan juga menganut kepercayaan Animisme (disebut juga sipelebegu atau parbegu), penganut kedua kepercayaan ini saat ini sudah semakin berkurang.

Untuk menyelusuri jejak pertama asal muasal suku Batak ini kita harus memulainya terlebih dahulu ke Pusuk Buhit, sebuah bukit tinggi menjulang di daerah Samosir pinggiran Danau Toba.

Salah satu tempat yang yang ternyata menyimpan banyak cerita bersejarah adalah "Pusuk Buhit" puncak tertinggi yang terletak di Desa Limbong-Sagala, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir, berjarak sekitar 15 km dari Pangururan.

Menurut kepercayaan masyarakat Batak, pada abad XII, Pusuk Buhit dianggap sebagai tempat asal muasal seluruh Suku Batak. Dalam perkembangannya, nenek moyang Suku Batak menyebar ke delapan penjuru mata angin, yakni; Purba, Anggoni, Dangsina, Nariti, Pastia, Mangadia, Utara, Irisanna atau dari Timur higga Timur Laut .

Berada di kawasan Pusuk Buhit ini, seakan berada di sebuah tempat dan jaman yang berbeda. Pada umumnya orang Batak percaya kalau Siraja Batak diturunkan langsung di Pusuk Buhit. Siraja Batak kemudian membangun perkampungan di salah satu lembah gunung tersebut dengan nama Sianjur Mulamula. Sianjur Mula Tompa yang masih dapat dikunjungi sampai saat ini sebagai model perkampungan pertama suku Batak. Letak perkampungan itu berada di garis lingkar Pusuk Buhit di lembah Sagala dan Limbong Mulana. Ada dua arah jalan daratan menuju Pusuk Buhit. Satu dari arah Tomok (bagian Timur) dan satu lagi dari dataran tinggi Tele.

Dalam cerita masyarakat setempat, Pusuk Buhit sebagai tempat turunnya Si Raja Batak yang pertama, diutus oleh Mulajadi Nabolon atau Tuhan Yang Maha Esa untuk mengusai tanah Batak. Disanalah Raja Batak memulai kehidupannya. Dalam silsilahnya, Raja Batak memiliki dua orang anak sebagai pembawa keturunan atau marga dan menjaga martabat keluarga. Kedua putra Raja Batak itu bernama Guru Tatea Bulan dan Raja Isombaon.
Guru Tatea Bulan memiliki lima orang putra dan lima orang putri. Kelima putranya bernama; Raja Uti (tidak memiliki keturunan), Sariburaja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Silau Raja. Dari keturunan mereka lah asal muasal semua marga-marga Batak muncul dan menyebar ke seluruh penjuru.

Mulai dari garis Si Raja Batak, asal-usul manusia Batak bukan dianggap legenda lagi tapi menjadi tarombo atau permulaan silsilah. Pada generasi sekarang telah dikenal aksara atau lazim disebut Pustaha Laklak. Sebelum meninggal, Si Raja Batak sempat mewariskan "Piagam Wasiat" kepada kedua anaknya Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon.

Guru Tatea Bulan mendapat "Surat Agung" yang berisi ilmu pedukunan atau kesaktian, pencak silat dan keperwiraan. Raja Isumbaon mendapat "Tumbaga Holing" yang berisi kerajaan (Tatap- Raja ), hukum atau peradilan, persawahan, dagang dan seni mencipta. Guru Tatea Bulan memiliki sembilan anak yaitu Si Raja Biak-biak, Tuan Saribu Raja, Si Boru Pareme (putri), Limbong Mulana, Si Boru Anting Sabungan (putri), Sagala Raja, Si Boru Biding Laut (putri), Malau Raja dan Si Boru Nan Tinjo (maaf, konon seorang banci yang dalam bahasa Batak disebut si dua jambar). Dari keturunan Guru Tatea Bulan terjadi pula perkawinan incest. Antara Saribu Raja dengan Si Boru Pareme. Ini yang menurunkan Si Raja Lontung yang kita kenal marga Sinaga, Nainggolan, Aritonang, Situmorang, dan seterusnya.

Suku Batak sangat menghormati leluhurnya sehingga hampir semua leluhur marga-marga batak diberi gelar Raja sebagai gelar penghormatan, juga makam-makam para leluhur orang Batak dibangun sedemikian rupa oleh keturunanya dan dibuatkan tugu yang bisa menghabiskan biaya milyartan rupiah.Tugu ini dimaksudkan selain penghormatan terhadap leluhur juga untuk mengingatkan generasi muda akan silsilah mereka.

Asal usul suku Batak sangat sulit untuk ditelusuri dikarenakan minimnya situs peninggalan sejarah yg menceritakan tentang suku Batak, maka sering dikatakan menelusuri asal usul suku Batak adalah sebuah pekerjaan yang sulit, dan perlu banyak bertanya. Siapa tahu ada dari para pembaca yang lebih paham bisa melengkapi tulisan ini dan kita akan sangat berterima kasih.[]Syafriwal Marbun


Baca Juga [ Travel ]