Demokrasi Kita

Senin, 19 Oktober 2015 13:44 WIB

Ilustrasi

Oleh: Masriadi Pasaribu

Demokrasi kita adalah judul buku buah pemikiran salah seorang tokoh proklamator kita, Bung Hatta. Dalam buku tersebut tokoh besar itu memaparkan pokok-pokok pikirannya tetang demokrasi dan kedaulatan rakyat. Saya tidak ingin mengulas atau meresensi buku tersebut, melainkan hanya ingin mengutip salah satu pokok pemikirannya, yakni Kemerdekaan Ada Batasnya.

Saya sengaja memilihnya dan mencoba membentuknya dengan situasi kekinian. Kesimpulannya, situasi demokrasi kita saat ini sejatinya "bukan demokrasi kita". Demokrasi yang dipraktekkan saat ini merupakan "demokrasi import".

Mengutip isi sampul belakang buku itu, apa yang terjadi sekarang ialah krisis demokrasi, atau demokrasi di dalam krisis. Demokras yang tidak mengenal batas kemerdekaan, lupa syarat-syarat hidupnya dan cenderung menjadi anarki, lambat laun akan digantikan oleh dikatator.

Apa yang disampaikan oleh Bung Hatta dalam bukunya itu jika diproyeksikan pada kondisi saat ini menemukan korelasi yang sangat tepat. Hari ini, atas nama orang-orang memaksakan kehendaknya dengan segala cara atau menghalalkan segala cara (the end justifies the means, dalam bahasa Machiavelli). Mereka membakar, mereka ribut dengan aparat, bahkan ada yang ribut dengan orang lain. Pada batas ini, mereka yang menjalankan perilaku Machiavellian tadi saya sebut menerapkan "demokrasi import". Padahal, kemerdekaan itu ada batasnya.

Apa batas kemerdekaan itu? Sebagian besar berpendapat bahwa batas kemerdekaan seseorang adalah kemerdekaan orang lain. Tidak ada yang salah dengan pendapat ini. Tapi, bagi saya, batas kemerdekaan adalah etika. Manakala seorang menjalankan kemerdekaannya tanpa batas, etikalah yang bisa menghentikannya. Ia tidak bisa dihentikan oleh kemerdekaan orang lain. Kalau ini terjadi, dimana orang-orang merdeka menjalankan apa maunya, bisa-bisa terjadi keributan. Hanya etikalah yang akan menghentikan. Tidak yang lain. Demokrasi yang mengedepankan etika saya sebut "demokrasi kita".

Lantas, bagaimana penjabaran "demokrasi kita" itu? Demokrasi kita adalah sebuah sistem yang mengedepankan prinsip-prinsip etika. Karena kita orang Indonesia, etika Indonesia antara lain, santun dalam menyampaikan aspirasinya, tidak anarkis, atau tidak menyebar fitnah. Dalam tataran yang paling tinggi, etika Indonesia adalah diam atau hening.

Dalam konteks perpolitikan Indonesia saat ini, diam itu berarti membiarkan orang yang sedang diatas panggung kekuasaan menjalankannya dengan sempurna, atau sampai selesai kendati bisa saja ia tidak sejalan dengan segala program yang ditawarkan. Melawannya tidak akan bermanfaat. Perlawanannya ditunjukkan dengan tidak memilih sang penguasa pada pemilihan berikutnya. Kondisi seperti itulah yang kita inginkan terjadi saat ini.

Orang-orang yang berseberangan dengan penguasa, hendaknya mampu bertahan hingga pemilihan yang akan datang. Biarkanlah mereka yang sudah dipercaya oleh rakyat menjalankan pekerjaannya dulu. Jika tidak berkenan, tahan diri saja. Mereka bisa membalasnya pada saat pemilu dengan tidak memilihnya penguasa saat ini. Sesederhana itu. Tidak perlu ribut-ribut, apalagi melakukan fitnah maupun tindakan anarkis. Sekali lagi "demokrasi kita" adalah demokrasi etis, bukan demokrasi caci maki, hujat, fitnah dan sebagainya yang tidak baik.

Pada tataran tertentu, prinsip diam itulah yang telah dipraktekkan oleh Bung Hatta. Demi menjaga keutuhan bangsa ini, dia mengundurkan diri dari panggung kekuasaan. Dan menariknya, setelah diluar kekuasaan Bung Hatta mencoba mengkritisi keadaan dengan menulis buku berjudul "Demokrasi Kita". Bung Hatta mengkritisi situasi dengan semangat etika yang tinggi. Dia tidak membiarkan dirinya menjadi kritikus Presiden Soekarno dengan cara-cara yang vulgar apalagi anarkis.

Sebetulnya, dalam prespektif kemerdekaan, Bung Hatta bisa saja menyuarakan hati nuraninya dengan lebih vocal, bisa saja menggalang demontrasi besar-besaran dan sebagainya. Namun, ia lebih mengedepankan etika. Hanya buku yang ia tulis untuk mengkritisi situasi saat itu. Saat ini kita membutuhkan orang-orang, terutama para pemimpin, dengan sikap dan pemikiran seperti Bung Hatta. Yang bersuara lantang tapi menyampaikannya dengan lembut dan bersahaja. Tidak berapi-api, apalagi sampai membakar foto-foto.

Terimakasi, Bung Hatta. Bangsa ini telah engkau ajari sebuah perilaku moral yang agung. Tapi sayang, kami tidak pernah mengikutimu. Maafkan kami untuk itu. Mulai hari ini kami akan mencoba menjalankan amanatmu. "Demokrasi kita", demokrasi yang etis.[] 

Baca Juga [ Opini ]